10 November 2009

Kegembiraan Bermain Hujan Bersama Vitae, Pahlawan Hatiku!




Aku : "Kak, kita jalan aja yok, lewat depan....kan gak banyak pohon kalo lewat depan"
Vitae : "Tapi kan banjir Ma..."
Aku : "Ndak apa-apa Kak, dari pada nanti banjirnya tambah tinggi, terus kita malah gak bisa pulang"
Vitae : "Iya juga ya, yok!"


Pukul 14.00 wib, awan abu-abu gelap menggantung berat. aku dan Vitae, anak sulungku bergegas. Persediaan teh poci rasa vanila dan pembalut harian kami menipis, dan hanya sebuah mini market yang tak jauh dari perumahan kami yang menjualnya.
Mungkin warung Encik, sekitar 7 rumah dari rumahku menjual kedua keparluan itu, tapi tidak teh poci dengan rasa spesifik dan pembalut harian dengan kemasan ekonomis, haha!

Setelah menyelesaikan keperluan kami ditambah sebungkus Chacha susu coklat kesukaan Vitae, kami bermaksud menuntaskan rasa lapar yang sedari pagi belum diakomodir dengan gado-gado Betawi yang mangkal di depan mini market tersebut.
Tak disangka, ternyata ketika kami sedang berada di dalam mini market, hujan mulai turun dan menderas disertai petir yang menyambar-nyambar menakutkan.
Aku dan Vitae kembali masuk mini market dan memutuskan membeli sebuah payung. Ini keputusan penting karena memang kami tidak punya payung sepotongpun di rumah, jadi membeli sebuah payung tidak akan membuatku merasa bersalah karena telah membelanjakan uang untuk hal tak berguna :P

Setelah itu kami mampir menikmati gado-gado Betawi yang sejak dari rumah telah kami impi-impikan, tempatnya memang tak jauh dari rumah, tapi panas yang menyengat selama ini membuat kami enggan meluangkan waktu untuk itu, terlebih lagi gado-gado itu hanya ada di siang hari hinggan pukul tiga atau empat sore.

Selesai makan, kami kembali bingung memikirkan cara pulang terbaik mengingat hujan masih sangat deras dan petir-petir garang masih membuat nyali kami untuk menembusnya ciut.
Menunggu hujan reda di warung gado-gado mungkin agak menyenangkan untukku mengingat beberapa pria berbaju kantor dan berwajah lumayan juga sedang menikmati gado-gado di tempat yang sama.....tapi kesenangan itu tentu tidak dinikmati Vitae, huahahahaaa....!

Hampir dua puluh menit menunggu membuat kami lama-kelamaan bosan semntara hujan tak juga mereda. akhirnya kuusulkan pada Vitae agar memberanikan diri menembur hujan da petir dengan penjelasan panjang lebar mengenai selama kami tidak berjalan di bawah pohon dan ada obyek lebih tinggi, maka ini akan meminimalkan bahaya tersambar petir. Itu bila kami mengambil jalan pulang memutar lewat gerbang utama perumahan, bukan jalan ebelumnya yang lebih pendek lewat gerbang samping yang langsung menembus halaman mini market.
Resikonya adalah, kami berdua tahu bahwa dengan hujan deras lebih dari 15 menit akan membuat gerbang utama perumahan terendam banjir yang cukup lumayan kira-kira selutut orang dewasa.

Benar juga, ketika kami tiba di mulut gerbang perumahan, banjir sudah menghadang. Kami tahu kami harus menembusnya, sementara payung yang tak cukup besar yang kami pakai bersama ini pasti akan menyulitkan kami berjalan bila tetap dalam posisi bersisian. Namun ami tetap melakukannya juga. Menapak banjir perlahan-lahan agar kaki tak terperosok ke lubang-lubang jalan yang akan membuat kami terjengkang jatuh.
Jarak rentan banjir yang harus kami lalui adalh kurang lebih 20 meter. Di pertengahan, aku katakan pada Vitae bahwa mungkin lucu juga bila momen ini diabadikan, dan.............

Hujan deras, petir-petir garang dan banjir tak menyurutkan hasrat narsis kami. Hanya karena akhirnya aku takut karena kami memakai kamera telepon genggam akan merusak fungsi komunikasi maka kami menghentikan kesenangan kami. Setelah itu kami melupakan siapa yang harus berlindung lebih banyak di bawah payung, karena sisa perjalanan kami gembirakan dengan berhujan-hujanan dan tertawa-tawa menikmati bermain hujan tengah hari. Menikmati kaos dan celana pendek batik kami yang basah kuyup dan baru menyelesaikan keriangan itu ketika tiba di rumah karena harus segera membersihkan diri terutama kaki yang terendam banjir yang formulasi volumenya juga dari got-got sekitar perumahan yang meluap. Maklum, kami punya alergi kulit cukup parah meski siang itu segala ketakutan baik kepada petir maupun gatal-gatal alergi tak membuat kami urung bersenang-senang.

Aku tak percaya, aku yang 36 tahun dan Vitae yang 11 tahun baru saja bersama-sama selesai bermain hujan!



Jakarta, 10 November 2009

No comments:

Post a Comment