29 April 2015

Selamatkan Generasi Bangsa Dari Narkoba Dan Tolak Hukuman Mati

Mengurangi Pemakaian Narkoba Tanpa Membunuh Lebih Banyak Manusia


Membangun kesadaran massal dari unit masyarakat terkecil bukan perkara mudah. Kita terbiasa dengan metode pemadam kebakaran, alias "rusak buang" yang lebih mudah seperti penerapan hukuman mati untuk efek jera. Nyatanya tak ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikan hukuman mati menimbulkan efek jera untuk segala jenis kejahatan.
Bukan rahasia hukum di Indonesia hanya mampu menjangkau mereka yang berada dalam rantai kejahatan terendah alias kaki tangan. Sementara masalah utama dari gambaran besar keseluruhan masalah seperti aparat hukum yang korup, tak pernah terselesaikan dan berniat dibongkar tuntas. Pembangunan mental secara keseluruhan luput dari perhatian karena memang butuh waktu dan ketekunan.

Berikut cara ampuh menekan angka pemakaian narkoba. Pemakaian yang berkurang akan menyulitkan peredaran. Ini langkah panjang dan tidak mudah yang dilupakan pemerintah kita dan sebagian besar masyarakat.

-Tingkatkan komunikasi yang setara dan kualitas hubungan dalam keluarga. Keluarga yang saling terikat erat satu dengan yang lainnya secara emosional, psikis dan fisik, akan mencegah terikat secara emosional pada hal-hal negatif di luar keluarga termasuk pergaulan dengan kelompok-kelompok pro-kekerasan, NARKOBA, perselingkuhan dan sebagainya.
- Tegakkan hukum tanpa pandang bulu, bukan hanya pada mereka yang tak berdaya dan tanpa kekuatan uang. Memberangus sistem peredaran narkoba dimulai dengan memperkuat komitmen aparat hukum untuk tidak bisa "dibeli". Langkah ini akan memutus rantai mulai dari jalanan hingga peredaran dalam lapas.

Semoga kita semua tetap menjadi bangsa yang beradab dengan generasi yang sehat jiwa dan raga.

#TolakHukumanMati

21 April 2015

HATI YANG BERPIKIR





Terusir dari ingatan, luka menjadi gelandangan di tempat tabu. Menyamar sebagai ketabahan.”



Saya tiba-tiba ingin menulis tentang hati. Hati yang tak sekadar daging dan darah; yang entah bagaimana dibentuknya sehingga setiap selnya mampu menampung semua rasa di sepanjang hidup kita. Hati saya, berulang kali berbinar gembira dan berulang kali patah. Ia bekerja keras melakukan fungsinya, memberi ruang pada rasa dan perubahan rasa yang bisa saja terjadi sering sekali. Ia bekerja lebih keras saat kita menolak mengekspresikan perasaan menjadi satuan-satuan gerak sekecil apapun itu, agar orang lain mengetahuinya. Hati bekerja keras mengolah perasaan tertahan dan mencari tempat tepat menyimpannya. Di tempat terdalam, terluar, di tengah, di sisi entah yang mana atau di sudut tertentu yang membuat kita mampu atau tidak mampu mengendalikan keriangan atau luka.


Beberapa hari lalu saya mengalami situasi patah hati. Saya mengalaminya berkali-kali, sangat dan terlalu sering. Sebagian besar orang menyebutnya dengan super sensitif, sebagian kecil menduganya sebagai bagian dari efek trauma (dari sejarah kekerasan yang saya alami) yang menjelma situasi depresif. Saya tidak terlalu peduli. Saya mengenal diri saya dan menerimanya. Hati  saya patah saat menonton berita berita anak yang dicabuli bertahun-tahun lalu meninggal karena infeksi kelamin yang ditularkan pelakunya, hati saya patah saat membaca cerpen tentang pemuda gay yang bunuh diri karena setelah mengakui identitas seksualnya pada orang tuanya ia ditolak dan diusir, hati saya patah ketika menyaksikan anak balita lapar digendong dan dilibatkan mengemis oleh seorang perempuan yang terus mencubitinya, hati saya patah saat anak saya bilang dia ingin melanjutkan sekolah di sebuah kota kecil di pedalaman Kalimantan karena begitu ingin bergabung dengan tim marching bandnya dan saya terpaksa berkata tidak karena tak mampu membiayainya, hati saya patah saat apapun yang saya lakukan karena mencintai dengan sangat dianggap sunyi dan dianggap rutinitas berpasangan, hati saya juga patah berkali-kali oleh banyak kehilangan dan ketidakpedulian. Seiring waktu berjalan saya mulai memahami bahwa hati tak hanya bekerja keras. Lubang-lubang luka dari kepatahan-kepatahan itu harus dikelola, dan itu perlu keahlian. Lubang-lubang itu perlu diisi dan tidak dibiarkan kosong, gelap dan menjadi dingin. Dari titik ini saya mengerti, hati juga BERPIKIR keras. Ia mengolah luka, tak jarang membasuhnya dengan air mata dan keringat, bekerja sama dengan ‘rendah hati’ dengan otak yang mengolah memori dan informasi untuk menentukan dengan nutrisi atau sampah apa lubang luka akan diisi. Isinya, akan menentukan bagaimana detik, menit, jam, hari dan masa depan akan dibentuk. Dari  sana kita menentukan bagaimana hati kita bertumbuh.


Hati yang berpikir (lalu bekerja) keras saat ia patah, membuatnya bertumbuh. Berkembang lebih besar, cukup besar untuk lebih banyak menampung lebih banyak rasa yang akan dan mungkin hadir. Ia memberi lebih banyak ruang bagi binar kegembiraan dan tentu luka. Latihan-latihan dari banyak peristiwa sebelumnya memberi hati kemampuan untuk itu. Jadi, bila saat merasa patah dan kehilangan kita merasa ada yang kosong, itulah saat hati menyediakan diri berpikir bagaimana ia akan mengisi lubang kosong itu dan mengerjakannya butuh waktu yang berbeda-beda bagi setiap kejadiannya. Hati juga butuh belajar dan untuk itu, merawat hati menjadi sangat penting. Bagaimana merawatnya adalah rahasia terdalam kita masing-masing sampai kita diminta untuk menyampaikannya. Bahwa kita tidak pernah akan bisa sempurna melakukan prosesnya bahkan harus jatuh berkali-kali, itu bagian dari kenyataan bahwa kita masih menjalani kehidupan.


Hati yang berpikir akan bertumbuh dan berkembang, menyediakan lebih banyak ruang. Mari bantu membentuk isinya.

Tanpa mengecilkan kerja otak yang punya peran yang tak kalah besar, tulisan ini saya buat untuk menguatkan saya, hati saya. Semoga bisa menguatkan mereka yang turut membaca.

23 December 2014

BELAJAR SEJARAH 22 Desember: Hari Gerakan Perempuan Indonesia, Perempuan sebagai Ibu Bangsa

Belajar dari Sejarah Pendahulu Gerakan Perempuan
Memperingati HARI IBU ( Hari Gerakan Perempuan) 22 Desember

foto dari lakonhidup.wordpress.com


22 DESEMBER 1928 PEREMPUAN BERSATU MELAWAN KEKERASAN PEREMPUAN

PERINGATAN HARI IBU DIPUTUSKAN PADA KONGRES PEREMPUAN 1938, DALAM ARTI IBU BANGSA, AGAR IBU MENDIDIK PUTRA-PUTRI UNTUK MEMILIKI NILAI-NILAI NASIONALISME DAN KEBANGSAAN (jadi tidak sama dengan Mother's Day yang dirayakan di negara lain).
Sejarah Gerakan perempuan Indonesia tak lepas dari gerakan social pada umumnya. Perempuan aktif dalam kegiatan organisasi pemuda organisasi berlatar belakang kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatra atau Jong Ambon. Perempuan Indonesia juga aktivis pergerakan nasional, meski nama dan kerjanya tidak dicatat sejarah. Faktanya perempuan ikut mendeklarasian Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Saat itu pada organisasi umum juga divisi perempuan seperti Wanito Tomo dari Boedi Oetomo, Poetri Indonesia dari Poetra Indonesia danWanita Taman Siswa dari Taman Siswa. Organisasi perempuan yang berdiri di awal gerakan di antaranya adalah Putri Mardika, 1916.
Perempuan pelopor yang menjadi panitia pelaksana Kongres Perempuan Indonesia I 928 dan ikut dalam deklarasi Sumpah Pemuda 1928 antara lain Soejatin, Nyi Hajar Dewantoro, Sitti Sundari dan lain-lain. Merekalah inisiator dan penggerak Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928.
Kongres Perempuan Indonesia pertama 1928 adalah Momentum Kesadaran Kolektif Perempuan Indonesia untuk memperjuangkan hak-hak perempuan bersama-sama. Kesadaran mengenai berbagai permasalahan yang hingga kini, tahun 2006 masih relevan: poligami, perdagangan orang, kekerasan, dan buruh perempuan.

SEKILAS GERAKAN PEREMPUAN 1928-1935 ISU-ISU DAN UPAYA GERAKAN PEREMPUAN INDONESIA

Kongres Perempuan Pertama 22-25 Desember 1928
Kongres Perempuan Indonesia 1928 bersifat kooperatif. Artinya perjuangan dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah kolonial. Secara resmi Kongres mengakui pemerintah kolonial, dan mengajukan usulan pada pemerintah. Ini strategi untuk memudahkan penyebarluasan gagasan kepada perempuan dan masyarakat umum, terutama pihak kolonial. Sehingga perempuan kelas menengah atau bangsawan tidak takut bergabung atau ikut serta dengan anggapan tidak radikal. Pemerintah kolonial sendiri masih memiliki nostalgia keberhasilan politik etis (kemajuan pendidikan bangsa bumi putra) pada perempuan. Juga adanya anggapan pemerintah dan masyarakat, mengenai stereotipe kegiatan perempuan dan organisasi perempuan yang bersifat social dan hobby. Organisasi perempuan dianggaptidak-politis. Strategi ini diperkuat dengan keputusan Kongres untuk tidak membicarakan “politik” dalam arti umum. Kongres menekankan pembahasan masalah perempuan sesuai anggapan umum dan pemerintah kolonial, sebagai tidak-politis.
Perempuan dengan berbagai latar belakang suku, agama, kelas, dan ras Berkumpul dan bersatu dalam Kongres yang dilaksanakan di Mataram (Yogyakarta, sekarang pen.). Umumnya yang hadir dalah perempuan muda. Persiapan Kongres dilakukan di Jakarta, dengan susunan panitia: Nn. Soejatin dariPoetri Indonesia sebagai Ketua Pelaksana, Nyi Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa sebagai Ketua Kongres, dan Ny. Soekonto dari Wanito Tomo sebagai Wakil Ketua.
Kongres dihadiri perwakilan 30 organisasi perempuan dari seluruh Indonesia, di antaranya adalah Putri Indonesia, Wanito Tomo, Wanito Muljo, Wanita Katolik, Aisjiah, Ina Tuni dari Ambon, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Jong Java Meisjeskring, Poetri Boedi Sedjati, Poetri Mardika dan Wanita Taman Siswa.
Berbagai isu utama masalah perempuan dibahas pada rapat terbuka. Topiknya antarea lain: kedudukan perempuan dalam perkawinan; perempuan ditunjuk,dikawin dan diceraikan di luar kemauannya;poligami; dan pendidikan bagi anak perempuan. Pembahasan melahirkan debat dan perbedaan pendapat dari berbagai organisasi perempuan. Walaupun begitu tak menghalangi kenyataan yang diyakini bersama, yaitu perempuan perlu lebih maju.Berdasarkan hasil pembahasan antara lain Kongres memutuskan:
1. mengirimkan mosi kepada pemerintah kolonial untuk menambah sekolah bagi anak perempuan;
2. pemerintah wajib memberikna surat keteranganpada waktu nikah (undang undang perkawinan); dan segeranya
3. memberikan beasiswa bagi siswa perempuan yang memiliki kemampuan belajar tetapi tidak memiliki biaya pendidikan, lembaga itu disebut stuidie fonds;
4. mendirikan suatu lembaga dan mendirikan kursus pemberatasan buta huruf, kursus kesehatan serta mengaktifkan usaha pemberantasan perkawinan kanak-kanak;
Selain putusan di atas, berbagai perkumpulan berdiri atas inisiatif peserta Kongres untuk membela dan melindungi hak perempuan, di antaranyaPerkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A) untuk didirikan 1929. Pendirian perkumpulan itu disebabkan oleh merajelanya perdagangan anak perempuan.
Kongres-kogres Perempuan Indonesia selanjutnya
Tak jauh berbeda pembahasan berbagai permasalahan perempuan 1928 Kongres Perempuan Selanjutnya tahun 1929, 1930, 1935. Kongres untuk kordinasi selanjutnya bernama Kongres Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia.

Kongres Perempuan, Jakarta 28-31 Desember 1929

Permasalahan perkawinan khususnya poligami, kawin paksa dan perkawinan anak-anak juga menjadi topik yang dibahas tersendiri. Kongres memutuskan antara lain: meningkatkan nasib dan derajat perempuan Indonesia dengan tidak mengkaitkan diri dengan soal politik dan agama; mengajukan mosi kepada pemerintah untuk menghapuskan pergundikan.
Kongres sempat diwarnai ketegangan dan kepanitiaan hampir kacau karena Kongres hampir dilarang pemerintah. Hal itu terkait dengan situasi saat itu, yaitu Bung Karno ditangkap di Yogyakarta. Kantor dan tempat gedung pertemuan sempat digeledah polisi. Akhirnya Kongres tetap dijinkan dan berlangsung, di Gedung Thamrin di Gang Kenari Jakarta.
Kongres terbuka didukung juga massa rakyat yang memekikan, “yel-yel merdeka!”. Gedung tempat pelaksanaan Kongres menjadi menggelegar. Polisi mengawasi mengancam akan membubarkan. Salah seorang pemimpin sidang menyerahkan kendali situasi kepada Soejatin (Poetri Indonesia), ketua pelaksana Kongres Perempuan Pertama 1928. Sambutan demi sambutan diakhiri dengan pekikan “Merdeka, Sekarang!” Maka ruangan kembali riuh. Ketika polisi akan membubarkan, Soejatin mengetuk palu rapat selesai dan ditutup, rapat selanjutnya dilakukan tertutup.
Kongres menyatakan keprihatinannya dengan penangkapan Sukarno dengan membatalkan rencana akan mengadakan pameran dan malam penutupan.

Kongres Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia, Surabaya 13-18 Desember 1930.
Ketua Kongres Ny. Siti Soedari Soedirman. Keputusan Kongres yang sangat relevan dengan kekinian antara lain mendirikan Badan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (BPPPA) yang diketuai oleh Ny. Sunarjati Sukemi. Terbentuknya BPPPA disebabkan keprihatinan yang mendalam atas nasib yang menimpa anak-anak peremepuan yang terkena praktek JERATAN UTANG Cina Mindering, yaitu petani meminjam uang dengan bunga sangat tinggi dan tidak dapat mengembalikannya, sehingga seringanak gadis petani dijadikan penebus hutang-hutang itu. Kongres juga mengangkat isu buruh perempuan, khususnya nasib buruh pabrik batik di Lasem, dan memberikan penyuluhan peningkatan kesadaran bagi pembatik.

Kongres Perempuan Indonesia, Jakarta 20-24 Juli 1935

Kongres Perempuan Indonesia tahun 1935 diikuti tidak kurang dari 15 organisasi, di antaranya Wanita Katolik Indonesia, Poetri Indonesia, Poetri Boedi Sedjati, Aijsiah, Istri Sedar, Wanita Taman Siswa dsb. Ketua Kongres Ny. Sri Mangunsarkoro. Keputusan Kongres antara lain: Kongres memutuskan: mendirikan Badan Penyelidikan Perburuhan Perempuan yang berfungsi meneliti pekerjaan yang dilakukan perempuan Indonesia; meningkatkan pemberantasan buta huruf; mengadakan hubungan dengan perkumpulan pemuda, khususnya organisasi putri; mendasari perasaan kebangsaan, pekerjaan sosial dan kenetralan pada agama;Perempuan Indonesia berkewajiban berusaha supaya generasi baru sadar akan kewajiban kebangsaan: ia berkewajiban menjadi “Ibu Bangsa”.

Kongres Perempuan Indonesia, Bandung, Juli 1938
Kongres dikuti: Poetri Indonesia, Poetri Boedi Sedjati, Wanito Tomo, Aisjiah, Wanita Katolik dan Wanita Taman Siswa. Ketua Kongres Ny. Emma Puradiredja. Isu dibahas antara lain, partisipasi perempuan dalam politik, khususnya mengenai hak dipilih. Pemerintah kolonial memberikan hak dipilih bagi perempuan untuk Badan Perwakilan. Perempuan yang menjadi anggota Dewan Kota (Gementeraad): Ny. Emma Puradiredja, Ny. Sri Umiyati, Ny. Soenarjo Mangunpuspito dan Ny. Sitti Soendari. Karena perempuan belum mempunyai hak pilih, maka Kongres menuntut perempuan punya hak memilih.
Kongres memutuskan: tanggal 22 Desember diperingati sebagai “Hari Ibu” dengan arti seperti yang dimaksud dalam keputusan Kongres tahun 1935; membangun Komisi Perkawinan untuk merancang peraturan perkawinan yang seadil-adilnya tanpa menyinggung pihak tertentu.


Dikutip dari wartafeminis.com 14 Maret 2007


Kepustakaan:
Hardi, Lasmidjah, ed. 1981. Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi (Kumpulan Pengalaman dan Pemikiran), Buku I. Jakarta: Yayasan Wanita Pejuang.
Hardi, Lasmidjah, ed. 1985. Sumbangsihku Bagi Ibu Pertiwi (Kumpulan Pengalam dan Pemikiran), Buku V. Jakarta: Yayasan Wanita Pejuang.
Suwondo, Nani, S.H. 1968. Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan Masyarakat.Jakarta: Timun Mas.
Siaran Perwari, Tahun I No.3 Desember 1950
(@Umi Lasmina, 22 Desember 2006)

11 August 2014

Pernyataan Resmi SAYA Berkaitan dengan Publikasi Hilangnya ASS

Menyangkut publikasi hilangnya anak saya Abigail Syaza Satwika pada Jumat pagi, 8 Agustus 2014 sekitar pukul 09.21 - 10.30 WIB di sekolahnya, berikut pernyataan resmi saya:

Mengingat LAPORAN KEHILANGAN ABIGAIL SUDAH DI TANGAN POLRES JAKSEL BESERTA FOTO YANG DIPERLUKAN, maka pencarian ABIGAIL saya telah serahkan ke negara serta menunggu info resmi hanya dari negara, bukan dari siapa pun atau dari media mana pun.


Sebagai info penting, laporan dibuat karena pada saat kehilangan Abby, SAYA BERADA DI LOKASI KEJADIAN dan SEDANG MENUNGGUI ANAK SAYA,
HINGGA LAPORAN KE PIHAK BERWAJIB DISAMPAIKAN, TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MENGHUBUNGI SAYA ATAU PIHAK KELUARGA SAYA, UNTUK MENGAKUI TELAH MENGAMBIL ABBY DIAM-DIAM DARI PENGAWASAN SAYA.

Demikian pernyataan ini saya buat sebagai pernyataan resmi terakhir, sampai saya mendapat informasi resmi dari pihak kepolisian tentang keberadaan anak saya dan tidak akan saya ubah sampai saya bisa mengakses anak saya ASS.

Terima kasih dukungan, doa dan bantuan dari semua pihak.

24 April 2014

P E D O F I L

Apa yang setiap orang tua perlu tahu


Anda telah membaca banyak berita kekerasan seksual terhadap anak-anak  Masalahnya di sini adalah bahwa kita tidak dapat benar-benar tahu siapa yang mungkin menjadi predator.

Definisi Hukum :
Pedofilia: obsesi terhadap anak-anak sebagai objek seks. Tindakannya termasuk mengambil gambar dan merekam aktifitas seksual (bersama) anak, menganiaya secara seksual dan memperlihatkan alat kelamin.

Para pedofil bisa siapa saja - tua atau muda , kaya atau miskin , berpendidikan atau tidak berpendidikan , non - profesional atau profesional, dan ras apapun.
Namun, pedofil sering menunjukkan karakteristik yang sama , tetapi ini hanyalah indikator dan tidak boleh diasumsikan bahwa individu dengan karakteristik ini adalah pedofil .
Pengetahuan tentang karakteristik ini ditambah dengan uraian perilaku khususnya dapat digunakan sebagai peringatan bahwa seseorang mungkin seorang pedofil .

Penyidik kejahatan mandiri, Charles Montaldo menyusun informasi berikut:

Karakteristik Pedofil:
-       Seringkali pedofil adalah laki-laki dan lebih dari 30 tahun .
-       Lajang dan hanya memiliki sedikit teman dalam kelompok usianya .
-       Jika menikah pun, hubungan dengan pasangannya lebih sebagai "pendamping " dan tanpa hubungan seksual.
-       Sering berpindah kerja atau beralih profesi akibat diberhentikan karena catatn ksering meminta ijin atau bolos dengan alasan tidak jelas. Seringnya berpindah tempat kerja ini juga sangat mungkin karena perbuatan kriminal yang telah diketahui atau pernah ditetapkan sebagai tersangka.
      
Pedofil berperilaku dan berktifitas seperti anak-anak:
-       Ia lebih tertarik beraktifitas dan bermain dengan anak-anak dibanding dengan teman dewasanya
-       Dia akan selalu mengambarkan anak-anak sebagai sosok polos dan tak mungkin berbuat salah, sosok surgawi, sosok ilahi, sangat murni dan suci, dan gambaran lain yang tidak tepat dan berlebihan.
-        Dia memiliki hobi yang seperti anak kecil seperti mengumpulkan mainanan terbaru yang sedang tren, memelihara reptil atau hewan peliharaan eksotis, atau koleksi pesawat-pesawatan, mobil-mobilan dan sebagainya.


Pedofil lebih cenderung suka pada anak-anak yang memasuki/menjelang masa pubertas:
-       Target para pedofil sering pada anak usia tertentu. Beberapa lebih suka anak-anak berusia lebih muda, beberapa lebih tua.
-       Seringkali di lingkungannya, ia memiliki ruang khusus yang didekorasi menarik seperti kesukaan anak-anak target mangsa, dan ini diharapkan akan menarik perhatian calon korban yang usianya memang usia membutuhkan perhatian atau senang mencari perhatian.
-        Banyak pedofil biasanya lebih memilih anak-anak dekat berusia menjelang pubertas tapi tidak berpengalaman secara seksual, namun ingin tahu tentang seks.

Para pedofil bekerja di lingkungan sekitar anak-anak :
Pedofil akan sering memilih profesi atau dalam posisi yang melibatkan kontak sering dengan anak-anak. Jika tidak bekerja formal, ia akan menempatkan dirinya dalam posisi untuk melakukan pekerjaan sukarela dengan anak-anak, seringkali dalam kapasitas yang gerak mengamati lebih leluasa seperti pelatih/instruktur olahraga atau guru les (posisi dipercaya baik anak maupun orang tua) atau posisi di mana ia memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan anak tanpa pengawasan .

Sasaran para pedofil:
Anak-anak yang cenderung pemalu, cacat, dan anak-anak yang suka menyendiri, atau mereka yang datang dari keluarga bermasalah atau dari penampungan khusus. Pedofil akan menghujani mereka dengan perhatian, hadiah, mengajak anak-anak ke tempat-tempat yang diinginkan seperti taman hiburan, kebun binatang, konser idola, pantai dan tempat-tempat lain seperti itu .

Pedofil memanfaatkan kepolosan anak:
Para pedofil terampil manipulasi dan menerapkan kemampuan manipulatif itu  terhadap anak-anak bermasalah dengan terlebih dahulu menjadi teman mereka. Pedofil membangun harga diri anak dengan memberi kebutuhan jiwanya. Mereka bisa mampu dan matang menjadi sangat menarik dengan memenuhi kebutuhan anak untuk didengar dan dipahami. Ini diperlukan untuk membangun kepercayaan anak target korban. Selanjutnya melibatkan anak-anak ke interaksi bernuansa seksual seperti mengajak menonton bersama film porno atau melihat-lihat gambar porno, memegang-megang anggota badan korban atau meminta korban memegang anggota badan si pedofil, dan lain-lain. Mereka juga berani menawarkan dan membujuk korban mengonsumsi alkohol atau obat-obatan untuk menghambat kemampuan anak-anak untuk melawan dan mengingat peristiwa yang terjadi 




Stockholm Syndrome :
Bukan hal yang wajar bagi anak-anak untuk menumbuhkan perasaan pada predatornya dan tunduk terhadap hasrat pemangsa, serta menerima perlakuan pemangsanya terus-menerus. Anak-anak yang dalam cengkraman pemangsanya mengembangkan penilaian tidak tepat tentang baik dan buruk. Banyak dari mereka membenarkan perilaku buruk penjahat, bersimpati dan menjadi sangat menguntungkan pemangsanya. Hal ini sering dibandingkan dengan Stockholm Syndrome – suatu gejala kejiwaan ketika korban menjadi melekat secara emosional kepada penculik mereka .

Orang tua tunggal:
Pada banyak kasus, pedofil mendekati para orang tua tunggal dalam rangka untuk mendekati anak-anak mereka . Begitu berada di lingkar dalam, mereka memiliki banyak kesempatan untuk memanipulasi anak - menggunakan rasa bersalah, takut, dan cinta untuk membingungkan anak. Jika orang tua anak bekerja, pedofil jadi memiliki waktu pribadi yang dibutuhkan untuk mendekati dan memanfaatkan anak.

Berjuang Kembali :
Para pedofil bekerja keras mengintai target mereka dan dengan sabar melakukan segala hal untuk mengembangkan hubungan dengan anak-anak. Biasanya, pedofil tidak melakukan tindakan tercelanya pada banyak korban dalam waktu dekat. Banyak dari mereka percaya bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah dan bahwa berhubungan seks dengan seorang anak sebenarnya "sehat" bagi si anak .
Hampir semua pedofil memiliki koleksi berkonten pornografi yang mereka sembunyikan dengan segala cara. Banyak dari mereka juga mengumpulkan "souvenir" dari para korban. Mereka jarang membuang koleksi mereka untuk alasan apapun .

Salah satu faktor yang bisa melawan pedofila adalah bahwa pada akhirnya anak-anak akan bertumbuh dan mengingat peristiwa yang terjadi . Seringkali pedofil tidak dibawa ke proses hukum hingga membuat korban marah karenanya dan ingin melindungi anak-anak lain dari konsekuensi yang sama. Ini bentuk perlawanan yang paling umum pada para penyintas.

04 February 2014

Sebuah Ulasan, Persembahan untuk mengenang RENE CONWAY: Film 12 Menit Untuk Selamanya - Marching Band Berprestasi Internasional dari Kota Bontang

gambar: kaskus.co.id
Ini kali kedua saya nekat mengomentari sebuah film tertulis dan dipublikasikan setelah Film Rayya, yang kebetulan menampilkan bintang utama yang sama, Titi Rajo Bintang.
Perlu saya sampaikan kembali, bahwa saya bukan orang film, atau pengamat film atau siapa pun yang mengerti soal perfilman, khususnya film Indonesia. Saya menulis ulasan sederhana ini karena ikatan emosi dengan kota Bontang, tempat film ini dibuat. Saya pernah tinggal di sana tahun 2003 hingga 2008, dan tahu, Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur (MBBPKT) adalah kebanggan warga Bontang karena prestasi-prestasinya baik tingkat nasional maupun internasional. Prestasi MBBPKT inilah yang saya yakin menarik diangkat ke layar lebar, selain sekadar mengangkat ide cerita dari novel yang ditulis oleh Oka Aurora.
Mengangkat persiapan dan perjuangan MBBPKT kota Bontang menghadapi  kompetisi nasional tahunan marching band, Grand Prix Marching Band (GPMB) di Jakarta yang di warnai secara dramatis konflik tiga anggota marching band. Lahang (Hudri) pemuda Dayak yang ulet berlatih untuk mengejar mimpinya menjadi bagian kemenangan MBBPKT, Tara (Arum Sekarwangi) yang menyimpan kemarahan terhadap ibunya yang dianggap membuang dirinya ke rumah opa (Didi Petet) dan omanya (Niniek L. Karim) di Bontang dan Elaine (Amanda Sutanto) yang baru pindah karena mengikuti ayahnya, yang berkewarganegaraan Jepang, bertugas di salah satu perusahaan di lingkungan pabrik Pupuk Kaltim (PKT).
gambar: grazia.co.id
Digambarkan betapa Rene (Titi Rajo Bintang) tak hanya piawai melatih, namun juga mau tak mau terlibat dalam pemecahan masalah pribadi anggota marching band. Ini dilakukan demi kebersamaan yang sangat dibutuhkan demi keberhasilan kelompok. Perjuangan dan usaha Rene memimpin kelompok, melawan ego pribadinya maupun memenangkan hati orang-orang yang dilatihnya menjadi jahitan yang baik saat mengurai satu per satu konflik di film ini. Memang, saya tak bisa membayangkan, bila dalam persiapan untuk sebuah kontes nasional dengan anggota kelompok 130 orang yang peran dan fungsinya saling mengait satu dengan yang lain harus kehilangan anggota akibat masalah pribadi. Bisa bubar semuanya.
Beberapa pengambilan gambar lokasi latihan di tempat yang berbeda-beda seperi Pelabuhan Lhoktuan dengan latar belakang pemandangan kompleks pabrik PKT dan pemukiman di atas air laut Kelurahan Bontang Kuala, menjadi promosi pemerintah kota Bontang dalam hal pariwisata. Kota ini memang memiliki kekuatan di  pemandangan lautnya yang cantik di antara dua kompleks industri nasional Pupuk Kaltim dan PT. Badak NGL yang memiliki perpaduan tata letak layaknya perumahan di negara barat dengan rumah-rumah tanpa pagar dan kompleks bisnis tersendiri serta pantai.
Perlu diketahui, selain memiliki pemandangan alam bagus, wisata kuliner juga menjadi kelebihan kota Bontang. Mulai dari keunggulan masakan-masakan lautnya, hingga bakso dan mie ayam ada di sana. Percayalah, saya tahu benar, semuanya enak.
gambar: forum.kompas.com
Film ini juga menyelipkan latar kebudayaan Dayak dari tokoh Lahang. Saya sendiri sepanjang bermukim di Bontang tidak pernah tahu apakah ada pemukiman Dayak di sekitar hutan bakau pinggiran kota seperti yang digambarkan. Tapi tentu perlu mengangkat budaya asli Dayak untuk menguatkan gambaran penonton soal Kalimantan, khususnya Kota Bontang yang terletak di provinsi Kalimantan Timur. Yang menarik, kehidupan dan budaya Dayak tidak sekadar jadi tempelan di film ini. Penggarapnya serius menggambarkannya melalui tokoh Lahang dan ayahnya yang sedang sakit keras.
12 Menit, judul ini dipilih karena perjuangan berlatih selama ribuan jam adalah untuk tampil hanya 12 menit di kontes nasional dimaksud. Turut juga ditampilkan beberapa pejabat daerah di penghujung persiapan menuju kontes nasional GPMB. Penonton diajak ikut berdebar-debar berharap MBBPKT dengan segala ujian yang dilewatinya bisa memenangkan kontes tersebut. Puncak perjuangan dan konflik sungguh menguras air mata. Beberapa gambar kontes merupakan rekaman asli even GPMB di Istora Senayan Jakarta dengan bahkan menampilkan Jokowi sebagai pembuka kontes.
gambar: plus.google.com
Film ini membawa pesan penting untuk tidak menyerah dan bekerja keras dalam mewujudkan mimpi. Tontonan bagus penuh inspirasi. Mungkin beberapa kelambatan tempo dari adegan satu ke adegan lain dalam beberapa bagian sedikit membuat kita kedodoran momen. Perpindahan cepat beberapa adegan bisa menutupi sedikit kebakuan akting dan blocking beberapa tokoh yang memang diambil dari anggota asli marching band. Tentu, untuk ukuran baru pertama kali berakting, mereka sudah termasuk lumayan, tak terlalu jomplangdengan penampil-penampil lain yang lebih luwes berakting karena lebih lama pengalamannya.
Marching band masih belum secara luas dilirik sebagai kelompok bermusik yang populer. Keindahan penampilan MBBPKT di film ini diharapkan mampu mengangkat marching band menjadi kegiatan bermusik dengan menjunjung kerja sama dan kerja keras untuk mencapai keberhasilan. Saya tak ingin melupakan peran besar sang pelatih asli MBPKT, Rene Conway (aslinya adalah laki-laki) yang sudah membawa MBBPKT ke arena-arena nasional bahkan ke arena internasional. Kita bisa dengan mudah mengakses video-video penampilan mereka di Youtube. Rene Conway sempat hadir di bagian akhir film, sesaat sebelum MBBPKT berlaga, mengenakan seragam tim pendukung kuning-hitam.
gambar: vimeo.com
Dengan tak malu-malu, saya mengimbau untuk bergegas menonton dan mengajak yang lainnya juga. Tulisan ini adalah upaya promosi sukarela saya untuk film 12 Menit Untuk Selamanya. A must seen film!