11 April 2014

HATI YANG BERPIKIR





Terusir dari ingatan, luka menjadi gelandangan di tempat tabu. Menyamar sebagai ketabahan.”



Saya tiba-tiba ingin menulis tentang hati. Hati yang tak sekadar daging dan darah; yang entah bagaimana dibentuknya sehingga setiap selnya mampu menampung semua rasa di sepanjang hidup kita. Hati saya, berulang kali berbinar gembira dan berulang kali patah. Ia bekerja keras melakukan fungsinya, memberi ruang pada rasa dan perubahan rasa yang bisa saja terjadi sering sekali. Ia bekerja lebih keras saat kita menolak mengekspresikan perasaan menjadi satuan-satuan gerak sekecil apapun itu, agar orang lain mengetahuinya. Hati bekerja keras mengolah perasaan tertahan dan mencari tempat tepat menyimpannya. Di tempat terdalam, terluar, di tengah, di sisi entah yang mana atau di sudut tertentu yang membuat kita mampu atau tidak mampu mengendalikan keriangan atau luka.


Beberapa hari lalu saya mengalami situasi patah hati. Saya mengalaminya berkali-kali, sangat dan terlalu sering. Sebagian besar orang menyebutnya dengan super sensitif, sebagian kecil menduganya sebagai bagian dari efek trauma (dari sejarah kekerasan yang saya alami) yang menjelma situasi depresif. Saya tidak terlalu peduli. Saya mengenal diri saya dan menerimanya. Hati  saya patah saat menonton berita berita anak yang dicabuli bertahun-tahun lalu meninggal karena infeksi kelamin yang ditularkan pelakunya, hati saya patah saat membaca cerpen tentang pemuda gay yang bunuh diri karena setelah mengakui identitas seksualnya pada orang tuanya ia ditolak dan diusir, hati saya patah ketika menyaksikan anak balita lapar digendong dan dilibatkan mengemis oleh seorang perempuan yang terus mencubitinya, hati saya patah saat anak saya bilang dia ingin melanjutkan sekolah di sebuah kota kecil di pedalaman Kalimantan karena begitu ingin bergabung dengan tim marching bandnya dan saya terpaksa berkata tidak karena tak mampu membiayainya, hati saya patah saat apapun yang saya lakukan karena mencintai dengan sangat dianggap sunyi dan dianggap rutinitas berpasangan, hati saya juga patah berkali-kali oleh banyak kehilangan dan ketidakpedulian. Seiring waktu berjalan saya mulai memahami bahwa hati tak hanya bekerja keras. Lubang-lubang luka dari kepatahan-kepatahan itu harus dikelola, dan itu perlu keahlian. Lubang-lubang itu perlu diisi dan tidak dibiarkan kosong, gelap dan menjadi dingin. Dari titik ini saya mengerti, hati juga BERPIKIR keras. Ia mengolah luka, tak jarang membasuhnya dengan air mata dan keringat, bekerja sama dengan ‘rendah hati’ dengan otak yang mengolah memori dan informasi untuk menentukan dengan nutrisi atau sampah apa lubang luka akan diisi. Isinya, akan menentukan bagaimana detik, menit, jam, hari dan masa depan akan dibentuk. Dari  sana kita menentukan bagaimana hati kita bertumbuh.


Hati yang berpikir (lalu bekerja) keras saat ia patah, membuatnya bertumbuh. Berkembang lebih besar, cukup besar untuk lebih banyak menampung lebih banyak rasa yang akan dan mungkin hadir. Ia memberi lebih banyak ruang bagi binar kegembiraan dan tentu luka. Latihan-latihan dari banyak peristiwa sebelumnya memberi hati kemampuan untuk itu. Jadi, bila saat merasa patah dan kehilangan kita merasa ada yang kosong, itulah saat hati menyediakan diri berpikir bagaimana ia akan mengisi lubang kosong itu dan mengerjakannya butuh waktu yang berbeda-beda bagi setiap kejadiannya. Hati juga butuh belajar dan untuk itu, merawat hati menjadi sangat penting. Bagaimana merawatnya adalah rahasia terdalam kita masing-masing sampai kita diminta untuk menyampaikannya. Bahwa kita tidak pernah akan bisa sempurna melakukan prosesnya bahkan harus jatuh berkali-kali, itu bagian dari kenyataan bahwa kita masih menjalani kehidupan.


Hati yang berpikir akan bertumbuh dan berkembang, menyediakan lebih banyak ruang. Mari bantu membentuk isinya.

Tanpa mengecilkan kerja otak yang punya peran yang tak kalah besar, tulisan ini saya buat untuk menguatkan saya, hati saya. Semoga bisa menguatkan mereka yang turut membaca.

04 February 2014

Sebuah Ulasan, Persembahan untuk mengenang RENE CONWAY: Film 12 Menit Untuk Selamanya - Marching Band Berprestasi Internasional dari Kota Bontang

gambar: kaskus.co.id
Ini kali kedua saya nekat mengomentari sebuah film tertulis dan dipublikasikan setelah Film Rayya, yang kebetulan menampilkan bintang utama yang sama, Titi Rajo Bintang.
Perlu saya sampaikan kembali, bahwa saya bukan orang film, atau pengamat film atau siapa pun yang mengerti soal perfilman, khususnya film Indonesia. Saya menulis ulasan sederhana ini karena ikatan emosi dengan kota Bontang, tempat film ini dibuat. Saya pernah tinggal di sana tahun 2003 hingga 2008, dan tahu, Marching Band Bontang Pupuk Kalimantan Timur (MBBPKT) adalah kebanggan warga Bontang karena prestasi-prestasinya baik tingkat nasional maupun internasional. Prestasi MBBPKT inilah yang saya yakin menarik diangkat ke layar lebar, selain sekadar mengangkat ide cerita dari novel yang ditulis oleh Oka Aurora.
Mengangkat persiapan dan perjuangan MBBPKT kota Bontang menghadapi  kompetisi nasional tahunan marching band, Grand Prix Marching Band (GPMB) di Jakarta yang di warnai secara dramatis konflik tiga anggota marching band. Lahang (Hudri) pemuda Dayak yang ulet berlatih untuk mengejar mimpinya menjadi bagian kemenangan MBBPKT, Tara (Arum Sekarwangi) yang menyimpan kemarahan terhadap ibunya yang dianggap membuang dirinya ke rumah opa (Didi Petet) dan omanya (Niniek L. Karim) di Bontang dan Elaine (Amanda Sutanto) yang baru pindah karena mengikuti ayahnya, yang berkewarganegaraan Jepang, bertugas di salah satu perusahaan di lingkungan pabrik Pupuk Kaltim (PKT).
gambar: grazia.co.id
Digambarkan betapa Rene (Titi Rajo Bintang) tak hanya piawai melatih, namun juga mau tak mau terlibat dalam pemecahan masalah pribadi anggota marching band. Ini dilakukan demi kebersamaan yang sangat dibutuhkan demi keberhasilan kelompok. Perjuangan dan usaha Rene memimpin kelompok, melawan ego pribadinya maupun memenangkan hati orang-orang yang dilatihnya menjadi jahitan yang baik saat mengurai satu per satu konflik di film ini. Memang, saya tak bisa membayangkan, bila dalam persiapan untuk sebuah kontes nasional dengan anggota kelompok 130 orang yang peran dan fungsinya saling mengait satu dengan yang lain harus kehilangan anggota akibat masalah pribadi. Bisa bubar semuanya.
Beberapa pengambilan gambar lokasi latihan di tempat yang berbeda-beda seperi Pelabuhan Lhoktuan dengan latar belakang pemandangan kompleks pabrik PKT dan pemukiman di atas air laut Kelurahan Bontang Kuala, menjadi promosi pemerintah kota Bontang dalam hal pariwisata. Kota ini memang memiliki kekuatan di  pemandangan lautnya yang cantik di antara dua kompleks industri nasional Pupuk Kaltim dan PT. Badak NGL yang memiliki perpaduan tata letak layaknya perumahan di negara barat dengan rumah-rumah tanpa pagar dan kompleks bisnis tersendiri serta pantai.
Perlu diketahui, selain memiliki pemandangan alam bagus, wisata kuliner juga menjadi kelebihan kota Bontang. Mulai dari keunggulan masakan-masakan lautnya, hingga bakso dan mie ayam ada di sana. Percayalah, saya tahu benar, semuanya enak.
gambar: forum.kompas.com
Film ini juga menyelipkan latar kebudayaan Dayak dari tokoh Lahang. Saya sendiri sepanjang bermukim di Bontang tidak pernah tahu apakah ada pemukiman Dayak di sekitar hutan bakau pinggiran kota seperti yang digambarkan. Tapi tentu perlu mengangkat budaya asli Dayak untuk menguatkan gambaran penonton soal Kalimantan, khususnya Kota Bontang yang terletak di provinsi Kalimantan Timur. Yang menarik, kehidupan dan budaya Dayak tidak sekadar jadi tempelan di film ini. Penggarapnya serius menggambarkannya melalui tokoh Lahang dan ayahnya yang sedang sakit keras.
12 Menit, judul ini dipilih karena perjuangan berlatih selama ribuan jam adalah untuk tampil hanya 12 menit di kontes nasional dimaksud. Turut juga ditampilkan beberapa pejabat daerah di penghujung persiapan menuju kontes nasional GPMB. Penonton diajak ikut berdebar-debar berharap MBBPKT dengan segala ujian yang dilewatinya bisa memenangkan kontes tersebut. Puncak perjuangan dan konflik sungguh menguras air mata. Beberapa gambar kontes merupakan rekaman asli even GPMB di Istora Senayan Jakarta dengan bahkan menampilkan Jokowi sebagai pembuka kontes.
gambar: plus.google.com
Film ini membawa pesan penting untuk tidak menyerah dan bekerja keras dalam mewujudkan mimpi. Tontonan bagus penuh inspirasi. Mungkin beberapa kelambatan tempo dari adegan satu ke adegan lain dalam beberapa bagian sedikit membuat kita kedodoran momen. Perpindahan cepat beberapa adegan bisa menutupi sedikit kebakuan akting dan blocking beberapa tokoh yang memang diambil dari anggota asli marching band. Tentu, untuk ukuran baru pertama kali berakting, mereka sudah termasuk lumayan, tak terlalu jomplangdengan penampil-penampil lain yang lebih luwes berakting karena lebih lama pengalamannya.
Marching band masih belum secara luas dilirik sebagai kelompok bermusik yang populer. Keindahan penampilan MBBPKT di film ini diharapkan mampu mengangkat marching band menjadi kegiatan bermusik dengan menjunjung kerja sama dan kerja keras untuk mencapai keberhasilan. Saya tak ingin melupakan peran besar sang pelatih asli MBPKT, Rene Conway (aslinya adalah laki-laki) yang sudah membawa MBBPKT ke arena-arena nasional bahkan ke arena internasional. Kita bisa dengan mudah mengakses video-video penampilan mereka di Youtube. Rene Conway sempat hadir di bagian akhir film, sesaat sebelum MBBPKT berlaga, mengenakan seragam tim pendukung kuning-hitam.
gambar: vimeo.com
Dengan tak malu-malu, saya mengimbau untuk bergegas menonton dan mengajak yang lainnya juga. Tulisan ini adalah upaya promosi sukarela saya untuk film 12 Menit Untuk Selamanya. A must seen film!

01 February 2014

Menemukan



bila waktu pulang dalam wujud yang tak kukenali

maka aku memilih sunyi

tak bicara seperti makam murung

penungguan panjang hingga mati

aku selesai mengenal sia-sia

25 January 2014

Manipulasi Seksual juga "Pembunuhan"

Sumber: http://senidankreasiperempuan.tumblr.com/post/72539749457/manipulasi-seksual-juga-pembunuhan


Kurang lebih dua bulan lalu seorang pemimpin redaksi sebuah Stasiun Televisi menghubungi saya dan menanyakan pendapat saya mengenai sebuah kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang mahasiswi. Saat ia menyebutkan nama pelakunya saya terkejut. SS, pelaku yang disebutnya itu bukan nama asing. Saya mengenalnya dari  keaktifan saya menulis puisi beberapa tahun silam, dari pertemuan-pertemuan dan interaksi dengan para sastrawan. Sesekali saya bahkan pernah menautkannya di puisi yang saya tulis dan muat di jejaring sosial Facebook. Saya sempat berharap kritik dan komentar SS dan beberapa pegiat sastra lain karena saya merasa masih belajar.
Menulis, terutama menulis puisi, beberapa tahun silam saya pakai menjadi salah satu cara terapi mengelola efek trauma trauma berlapis akibat kekerasan seksual dan kekerasan domestik yang saya alami di masa lalu. Dimulai sejak saya masih kecil, belum lagi genap berumur lima tahun saat harus berpisah dengan masa kanak-kanak yang gembira dan polos. Direnggut predator seksual yang tinggal berdekatan. Karena kejahatan seperti itu bagi orang tua saya bukan hal yang baik dibicarakan, maka keluhan seorang anak kecil seperti saya tak pernah disikapi serius. Saya mengerdilkan dan mengubur rapat peristiwa itu dalam kepala kecil. Saya berdiam dan paham bahwa ini hal yang sangat tabu untuk dibicarakan, apalagi diadukan untuk mendapat perlindungan. Tiga tahun kemudian neraka itu berulang, bahkan dilakukan salah seorang anggota keluarga yang sehari-hari mengasuh saya. Saya alami selama tiga tahun sampai saya menjelang remaja. Ini melempar saya ke lubang yang lebih dalam dan kali ini saya tak berani mengadukannya, tahu tak akan mendapat tanggapan yang semestinya. Saya menyimpannya lagi rapat-rapat, berusaha melupakan meski pun tak pernah bisa benar-benar melupakannya.
Saya tumbuh dengan trauma mengerikan, berkembang membawa pemahaman keliru tentang tubuh saya. Hingga dewasa saya sulit mengenali dan menandai orang-orang yang hanya ingin mengeksploitasi keuntungan seksual dari tubuh perempuan. Para penjahat yang bahkan tak pernah benar-benar bertanya apa interaksi seksual yang dilakukannya juga mendapat kegairahan yang sama mengingat relasi yang timpang. Relasi yang hanya akan menguntungkan satu pihak dan menciptakan kemarahan dan kesedihan terpendam di pihak yang lebih rentan. Sulit menolak dan melawan, karena  melakukan sebuah upaya setelahnya saya takut  ditertawakan dan dihakimi.
Jangan pernah mengira para pemangsa tak tahu siapa yang akan mereka mangsa, mereka tahu dan paham cara memanfaatkan pengaruh mereka untuk menguasai dan mendominasi korbannya. Bahkan ada yang mampu mempertahankan pola relasi manipulasi menahun karena korbannya merasa dibina, diterima dan hanya dicintai oleh pemangsanya. Korban baru akan paham apa yang sebenarnya menimpanya setelah pemangsanya sudah meninggalkannya dan sedang mengejar atau sudah sedang memangsa korban lain. Pemangsa lebih pintar bahkan akan menahan diri beberapa lama sebelum melakukan aksinya lagi untuk memberi kesan “setia” pada korban sebelumnya.
Yang saya yakin tak pernah terpikirkan oleh siapapun, bahkan oleh korbannya, adalah manipulasi seksual dari relasi tak setara seperti ini memiliki efek trauma yang bisa sama dengan bentuk kejahatan kekerasan seksual lain. Manipulasi seksual seperti ini adalah bagian dari kerasan seksual itu sendiri. Kekerasan seksual adalah bentuk kekerasan yang mengakibatkan efek trauma terburuk dan terpanjang. Korban kekerasan seksual tak hanya terampas hidup dan kehidupannya, ada bagian dari jiwanya yang terbunuh, mati bersama pengalaman kekerasan yang dialaminya.  Begitu rumit proses atau upayanya melupakan dan mengubur dalam-dalam ingatan akan kejadian yang menimpanya. Yang mengerikan, korban umumnya lalu tidak memiliki kemampuan memahami hak atas tubuhnya sendiri. Banyak korban menjadi korban berulang karena luput paham dirinya di”properti”kan (dianggap milik orang tertentu). Ini disebabkan relasi-relasi yang dibangun oleh para pemangsa sebagai bentuk hubungan wajar dan diterima diam-diam oleh masyarakat sebagai bentuk hubungan (yang dianggap) suka sama suka. Ironis sekali, di lain pihak masyarakat mengecam hubungan seks yang dianggap tak dalam koridor yang benar. Tapi permisif atau menerima manipulasi seksual sebagai hubungan suka sama suka sebagai bentuk relasi. Kasus manipulasi seksual berkontribusi pada tingginya korban kekerasan seksual. Para korban yang hanya bisa diam dan tunduk pada kesepakatan yang tidak pernah dia dibuat, tapi “kesepakatan semu” masyarakat umumnya dengan pemangsa, yang tentunya pada akhirnya menguntungkan pemangsa.
Karena kondisi ini pulalah maka sebagian besar korban atau hampir semua korban manipulasi seksual urung menangani traumanya. Padahal trauma yang disimpan terlalu lama, akan terus menggunung efeknya dan puncaknya sama persis seperti efek trauma kekerasan seksual lain seperti pemerkosaan dengan kekerasaan fisik berat. Tidak jarang, adanya penyangkalan, menyalahkan diri sendiri dan usaha menutupi serta melupakan adalah beberapa efek trauma khas korban.
Untuk benar-benar memahami efek trauma korban, berikut daftar panjang efek-efek trauma korban kekerasan seksual:
Efek umum trauma paska kejadian yang langsung dialami korban kekerasan seksual:
  1. Syok
  2. Kedinginan
  3. Perasaan ingin pingsan
  4. Kebingungan mental
  5. Disorientasi (tokoh, peran, waktu & tempat)
  6. Gemetar
  7. Mual
  8. Muntah-muntah
Sedangkan pada penyintas (survivor) gejala trauma fisik meliputi: 
  1. Masalah ginekologi (kesehatan reproduksinya)
  2. Pendarahan atau infeksi
  3. Rasa sakit di seluruh tubuh
  4. Memar/luka gores/luka yang lebih dalam
  5. Mual dan muntah-muntah
  6. Iritasi tenggorokan (menyebabkab tercekat)
  7. Sakit kepala karena meningginya tekanan darah
  8. Rasa sakit di punggung bagian bawah dan/atau perut
  9. Gangguan makan
  10. Gangguan tidur
Ini adalah berbagai penyimpangan kebiasaan akibat trauma kekerasan seksual :
  1. Menangis lebih sering dari biasanya
  2. Kesulitan konsentrasi
  3. Kurang bisa mengatur pola istirahat
  4. Kurang bisa menikmati waktu santai
  5. Selalu waspada dan berjaga-jaga
  6. Gangguan kemampuan bersosialisasi ATAU bersosialisasi berlebihan
  7. Tidak suka ditinggalkan sendirian
  8. Gagap atau terbata-bata lebih dari biasanya (akibat tercekat)
  9. Menghindari hal-hal yang mengingatkan pada kejadian kekerasan seksual yang dialami
  10. Mudah takut dan terkejut
  11. Cepat kesal untuk hal sederhana
  12. Kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang bagi orang lain menarik
  13. Selalu bermasalah pada hubungan/relasi yang melibatkan emosi
  14. Mudah kecewa
  15. Lebih sering menarik diri dalam kondisi tertentu
  16. Mengonsumsi alkohol/rokok/obat-obatan (atau meningkat bila sebelumnya sudah mengkonsumsi)
  17. Lebih sering mencuci tangan dan/atau mandi
  18. Penyangkalan bahwa kekerasan seksual yang dialami tidak pernah terjadi
Gejala trauma psikis:
  1. Gangguan pikiran dan kekesalan
  2. Merasa kotor
  3. Ingatan berulang
  4. Mimpi buruk
  5. kesal pada hal-hal yang mengingatkan pada kejadian
  6. Fobia dan/atau trauma phobia
  7. Amnesia sementara
  8. Kebas atau rasa kehilangan emosi
  9. Bingung harus merasakan apa
  10. Merasa akan mati lebih cepat
  11. Depresi dan kesedihan
  12. Ingin bunuh diri
  13. Gusar dan kemarahan
  14. Lebih takut dan cemas berlebihan
  15. Malu dan terhina
  16. Merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri
  17. Merasa bertanggung jawab atas kejadian
  18. Merasa berbeda dan berjarak dengan orang lain
  19. Merasa tak tertolong dan tak berdaya
  20. Kehilangan penghormatan pada diri sendiri
  21. Kehilangan percaya diri
  22. Merasa selalu lebih kurang dari yang lain dan tak berharga
  23. Pada kekerasan seksual masa kanak-kanak, perkembangan emosi penyintas akan berhenti di usia pertama kali penyintas mengalami kejadian/serangan pertamanya
  24. Tidak lupa tapi selalu menemukan cara menghadapi/menghindari kenyataan (otak & otot)
  25. Merasa konseling/terapi belum tentu menolong
  26. Ragu dan takut menceritakan kejadian
  27. Kalau pun berani bercerita, di awal-awal, penyintas akan mengingat dan merasakan hal yang persis sama dan kembali menggerakkan gejala-gejala awal, tapi dengan lebih seringnya penyintas mengungkap dan menerima keadaan diri, pemulihan akan terjadi secara perlahan-lahan.
Efek khas lain:
  1. Migren
  2. Bulimia atau anoreksia
  3. Ketidakmampuan untuk mempercayai
  4. Perfeksionis atau malah sebaliknya, sangat sembarangan
  5. Menghindari ikatan/keintiman emosi
  6. Tidak mempercayai intuisi diri
  7. Belajar mengadaptasi kejadian sesungguhnya menjadi seolah-olah itu imajinasi (penyangkalan)
  8. Bisa saja membela pelaku
  9. Problem mengasuh anak
  10. Khawatir berlebihan
  11. Kebingungan berhubungan seks, apakah karena dorongan nafsu atau cinta
  12. Kebingungan berhubungan seks, antara mengontrol dan menguasai atau menjadi pasif 
(di kutip dari bahan pelatihan konseling yang diadakan oleh Lentera Indonesia tahun 2011, dibawakan oleh dr.Veronica Salter, terapis kekerasan terhadap perempuan lulusan Oxford University yang kini berdomisili di Jamaica)
Penutup
Pada trauma yang berlarut hingga menahun, seringkali korban pada saat terapi medis didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan spesifik. Ini disebabkan banyaknya korban tak mengurai kejadian traumatis yang dialami dan disimpannya sampai menahun, dengan efek trauma yang berkepanjangan.
Jangan mengira bahwa saat korban sudah menjalani serangkaian terapi maka itu akan menghilangkan efek trauma yang dibawanya, tidak. Terapi hanya bisa mengurangi dan memberdayakan korban untuk mengelola efek traumanya; terutama upaya mendampingi korban untuk menjadi penyintas. Usaha terapi untuk membantu survivor berfungsi secara social kembail, memperjuangkan bagian hidup yang dirampas karena kejahatan yang menimpanya. Beberapa efek trauma bahkan bisa muncul kembali bila penyintas mengalami kondisi sangat sulit yang membuatnya stress berat dan depresi di kemudian hari. Ini trauma yang dibawa hingga akhir hayat, yang efeknya terus bekerja menghantui para penyintas, seperti yang saya alami.
Oleh sebab itu, selalu saya ingatkan ke khalayak luas, bahwa kekerasan seksual adalah kejahatan kemanusiaan, mengingat efek trauma yang harus kami -para penyintas dan korban bawa terus seumur hidup. Kami pernah “dibunuh” dan setiap hari, harus berjuang melawan efek traumanya!
Dari pengalaman dan kesadaran bahwa begitu banyak korban kekerasan seksual, saya mempelajari isu kemanusiaan lebih dalam. Saya belajar memahami akar kekerasan berbasis gender dan seks, belajar segala sesuatu yang menyangkut isu kelompok rentan khususnya perempuan dan anak. Lalu saya dan teman-teman juga terus berupaya mengampanyekan bahwa anti kekerasan seksual bukan sekadar gerakan perlawanan tapi sebagai ide perubahan. Semua usaha ini adalah perubahan cara pandang, dari sekadar nuansa seksual (kriminal) ke kejahatan kemanusiaan. Saya juga berharap juga negara ini segera memiliki undang-undang khusus kekerasan seksual yang utuh agar perempuan bisa dilindungi sesuai hokum dan implementasi hokum yang komprehensif. Harapan kita bersama demi keadilan untuk para korban dan penyintas. Keadilan untuk semua.
7 Januari 2014

07 July 2013

The Stolen Childhood


I really like the character Boo, a tiny girl role in the animated film Monsters Inc.. Big eyes with adorable laughter. Running to and fro with the oversized monster costum. She is so funny. But every time I imagine the joy Boo, I did feel pain, feel as drawn into a deep hole, back to decades ago during which I should enjoy childhood instead of the experiences of the violence those not only caused physical harm and psychological harm .... also stole all my childhood memory that I will only pass once.

Sexually harassed by a next-door neighbor at the age of barely five years, then three years later, shamefully abused by my biological grandmother for three years, as well as tortured and physical violence until late adolescence. This terrible experiences lead me towards adult, sometimes I was crawling with wounded blood red soul to pass moments, vulnerable to be the next object of violence without ever knowing it.

When sexual abuse occurs in a child, her/his childhood is gone, replaced by a huge black hole that will dwell into adulthood, where s/he feels that's where s/he deserves to be, where I've felt that way, up to nearly a lifetime of letting life ruled by the who just want to take advantage of my vulnerability. If this raises questions in your mind ..... Yes, I had a lot of sexual experiences that I do not want even rape back at the age of 24 years by a famous old singer whom I handled his concert, working together with the youth bureau of a national organization of church fellowship. Once again, I was thrown into the dark hole, even deeper.




The traumas of violence never handled until I was 33 years old, in 2006 when I started to have a medical therapy. At that time I was facing separation because of an unfaithful spouse who always lying to me for the rest of our wedding. Even though, I began it not start from understanding the trauma, I was just treating the effects of the separation and the critical trauma effects, which makes me have a bipolar personality, potentially did self harm for many times because I kept thinking that I was useless, unfit to continue living in a very cruel life and would rather die only. Unfortunately therapy performed in a hospital in the city of Bontang-East Kalimantan, that was tinged of mal-practice considering they giving dangerous psychiatric drugs are not through direct consultation with me but through my partner who would provide inaccurate information to cover his betrayal at that time. During that treatment, I was in a state of delirium, really worsening the effects of trauma.

I moved to Jakarta and continued with better treatment. It made me much more to recover and start thinking about the next step to a better life. I had started it all in a very sadden situation where I was not able to send my children to school and had experienced eating a pack of instant noodles with rice with my children, but honestly I feel free and liberated from danger and stress. My real learning process starts from that point. I learned more about the issue of sexual violence and other issues related. Learn how trauma arises, the effects and the possibilities of appropriate therapy. Join the support group and break the silence for a struggle that I'll continue to do until later. Working hard for a dream, no more children who lost her childhood and had to stay in the dark painful hole for their lifetime.


I will never forget what happened. Sometimes, in a very depressed state and a very sad moment, I still experienced the effects of trauma and feel tortured. But I've been able to take the whole experiences as the part of my life, fighting to take my whole life back, and practicing harder to control the effects of trauma during exposure. However I am aware, I will never be able to restore the lost childhood, and for that I still feel there is a gaping dark hole in me.

06 July 2013

Kerinduan


Kerinduan padamu,
berdada dengan isi kesakitan
yang sangat nikmat

Kerinduan padamu,
sungguh melulu lenguh
dengan gelinjang jalang

Kerinduan padamu,
biru kelam