22 July 2010

Pejam

aku dan malam-malam senyap
adalah sepasang kekasih
yang mengerti
bagaimana menikmati suara hati

Runtuh

padamu,
aku ingin jatuh dalam rengkuh
berpeluh dan luluh

namun kau angkuh
dan tekunku runtuh!

Menantimu

menantimu,
seperti orang tua yang duduk di sepanjang senja di akhir hari musim semi demi musim gugur yang sebenarnya tak sampai sehari

menantimu,
seperti segerombolan burung utara yang berarak menuju selatan dan kehilangan daratannya hingga mereka mesti menjelajah lebih jauh sementara sebagian betinanya mengandung tua

menantimu,
seperti pencuri roti yang menunggu lamanya hukuman kurungan yang menjadi berlipat lantaran ia mengambilnya dari piring raja

m
e
n
a
n
t
i
m
u
membuatku berkarat dan sekarat!

Kalibrasi Hati!

anak-anakku,
senyum kalian bagai pendar matahari yang membangunkan pagi
hangat
berkilau
kalibrasi hati!

Cemas

: ja

saat waktu dan jarak makin tipis, aku sedikit gemetar disertai gentar
karena bukan pertemuan yang aku khawatirkan
melainkan perpisahan yang pasti akan menusuk dalam dan kelam

di hadapan bayangmu
aku berlutut
menikam diriku

membunuh diri yang terus berharap!

Ada Musibah!

ada musibah!
ketika gempa semata bagi penguasa
ketika banjir bagi yang kafir
ketika longsor bagi ideologi berbeda
ketika ada mati
ketika ada sakit
ketika ada penjara
ketika ada lara

padahal tuhan juga menangis bersama yang menangis