(pukul 9.30 wib)
Beberapa saat lagi saya akan bergabung bersama beberapa kawan memenuhi undangan wawancara sebuah radio nasional. Saya hadir sebagai salah satu penyintas kekerasan seksual masa kanak-kanak. Konfirmasi kesediaan saya sudah saya sampaikan beberapa hari lalu.
Belakangan, selama 3 hari belakangan ini saya disergap gelisah yang tak jelas asalnya. Saya sulit makan dan tak dapat tidur sama sekali. Jantung saya terus berdebar kencang seperti derap lari gerombolan kuda. Langit pagi dan senja di mata saya terus berganti-ganti warna dengan hujan kelopak-kelopak berbagai bunga. Malam hari nafas saya terus sesak hingga menjelang pagi.
Konyol sekali ketika saya sadar ini adalah reaksi kecemasan. Tidak sekadar cemas, tapi takut. Ya, saya takut.
Saya takut menangis dan terdengar cengeng saat memaparkan ulang petikan sejarah kanak-kanak yang selama ini saya simpan bersama seluruh perjalanan hidup. Menuturkan secara verbal tentu akan sangat berbeda dengan menuliskannya dan wawancara nanti bukan bincang berasama di grup kecil seperti biasanya. Bukan curhat tertutup dengan orang terdekat. Saya sadar ini akan didengar oleh banyak orang.
(pukul 14.04 wib)
Ya, saya memang takut. Tapi dengan menyadari bahwa saya takut maka “asli' saya keluar : SELALU MELAWAN. Makin besar rasa takut menekan, makin keras saya melawannya. Sama seperti saya telah melawan banyak hal yang membuat saya tiba di titik sekarang ini.
Takut pernah gagal membunuh saya dan membuat saya lebih kuat. Saya tak malu mengakui bahwa saya takut, karena sebagian besar keberanian saya dimulai dari rasa takut.
07 September 2011
Kami Hanya Suka Tertawa Sekencang-kencangnya
-Untuk AW yang kujuluki Beton dan memanggilku Semen-
Benarkah malaikat ada ? Bagi saya hampir seperti dongeng. Hampir seumur hidup saya tidak pernah menemukan bukti bahwa malaikat ada. Tidak sampai saya benar-benar mendengar tawa saya sendiri yang begitu kerasnya dan bukan tawa pura-pura.
Saat berada di tengah keramaian menghadiri acara bersama kawan-kawan saya sering tertawa, bersahut-sahutan dengan kelakar keroyokan. Tapi membuat saya tertawa di tengah kondisi nadir, nyaris putus asa dan amarah ? Hanya seorang teman dengan ketulusan melebihi ketulusan air mata yang jatuh tanpa berharap bisa kembali yang bisa melakukannya.
Awang (bukan nama sebenarnya) saya kenal dari lingkungan gereja tempat saya beribadah hampir setiap Minggu. Saya keberatan dibilang Kristen tapi karena meditasi mingguan ini saya lakukan di gereja yang bagi saya adalah cara tercocok mencapai relaksasi spiritual, maka dengan bersungut-sungut dalam hati, saya hanya tersenyum pasrah bila dituduh Kristen.
Awang adalah pengerja di kebaktian ke-6 setiap minggunya. Sosoknya dengan tinggi di atas rata-rata orang Indonesia, dengan wajah khas oriental tapi dengan kelebihan mata yang lebih bundar membuatmya sangat tampan. Mustahil ada perempuan yang tak memperhatikan kehadirannya. Saya juga.
Saya anggap itu bonus lucu-lucuan saja, tak pernah terbersit keinginan kenal lebih jauh atau ingin tahu. Dia hanya sepotong kebaikan hidup yang tak punya pengaruh apa-apa. Saat meninggalkan kebaktian pukul 18.00 wib, satu lantai di bawahnya, di food court sebuah mal yang paling membuat macet sepanjang jalan Prof. Satrio, bertebaran laki-laki muda menarik. Bisa ditemukan dimana pun. Tak ada yang istimewa membicarakan laki-laki tampan di Jakarta. Ada dimana-mana.
Saya bahkan tidak pernah ingat kenapa Awang ada di dua akun facebook saya. Mungkin saling menambahkan sebagai teman itu terjadi saat saya ikut berpartisipasi ikut menjadi anggota paduan suara kebaktian kebangunan rohani Natal gereja tersebut dua tahun lalu.
Singkat cerita oleh seorang pengerja gereja yang saya kenal saat dipaksa menjadi pemandu lagu rutin di kebaktian para karyawan dan profesional setiap Jumat siang, saya menerima undangan bergabung di sebuah grup blackberry yang berisi pengerja gereja tersebut. Tapi terus terang karena segan menolak saja. Saya sudah berpikir akan meninggalkan grup tersebut setelah beberapa waktu.
Ternyata Awang juga ada di daftar anggota grup tersebut. Dan perkiraanku karena kami memang sudah terkoneksi di facebook dan ada dalam satu grup yang sama, ia berinisiatif menambahkan saya sebagai kontak blackberry'nya. Tak ada masalah.
Beberapa bulan setelah itu saya menerima broadcast message (pesan ke semua kontak) dari Awang. Promosi obat herbal yang dijamin asli tapi dengan harga lumayan murah. Kontak pertama kami adalah tanya jawab soal obat tersebut.
Lagi-lagi saya lupa bagaimana awalnya kami bisa saling berkirim pesan dengan isi percakapan yang lebih santai. Awalnya saya agak terganggu kebiasaannya mengakhiri setiap pesan dengan “hehehe” yang di”auto-text”kan dengan lambang yang menurut saya sangat kekanak-kanakan dan menjengkelkan. Dari kebiasaannya itu saya jadi bisa memperkirakan umurnya. Pasti belum menyentuh angka tiga puluh. Padahal saya mengira dia sudah berumur antara 35 hingga 38 tahun. Tanpa bermaksud mengatakan Awang berwajah “boros”, mungkin karena saya selalu melihatnya dengan setelan jas komplit setiap ia bertugas Hari Minggu maka saya berkesimpulan seperti itu.
Saling berkirim pesan membuat kami bertambah akrab. Aneh, kami seperti sudah berteman bertahun-tahun lamanya. Awang ternyata sangat lucu dan periang. Kelebihan fisik dan umur yang sangat muda tak membuatnya merasa risih berteman dengan perempuan yang jauh lebih tua dengan status ibu tunggal. Dia ringan tangan membantu apa yang bisa dibantunya termasuk tak sungkan-sungkan ikut membantu menjadi pemandu lagu saat saya mengatakan bahwa kami kekurangan pemandu lagu di suatu Jumat siang..
Saya tak merasa harus menjadi orang lain saat berinteraksi dengannya. Kami bisa tiba-tiba bersikap seperti anak-anak yang sedang bermain-main dan sesaat kemudian selayaknya dua orang dewasa yang berdiskusi soal apa saja.
Yang paling membuat saya nyaman, Awang tulus sebagai teman. Tak pernah sedikit pun ia memperlihatkan sikap yang dia tahu akan membuat saya tak nyaman karena merasa dia punya maksud atau perasaan tertentu terhadap saya yang melebihi relasi pertemanan. SANGAT LANGKA !
Awang ternyata cerewet dan suka ngobrol. Tapi ia tidak terlalu tertarik dunia gerakan sosial dan politik yang saya senang cermati. Tapi dengan seksama ia mendengarkan saat saya membicarakan hal-hal yang tak disukainya itu. Ia adalah pendengar yang baik. Sesekali Awang menyelipkan lelucuan.
Ada saat Awang mencurahkan kekesalan, kesedihan dan kekecewaan yang dialaminya. Atau apa yang olehnya disebut pengakuan memalukan, yang tak mungkin diutarakannya pada teman lain yang kebanyakan sebaya atau pada teman dari dari lingkungan gereja tempatnya selama ini berkegiatan.
Pada saya, ia bebas mengutarakan apa saja tanpa pernah merasa dihakimi atau dinilai tak pantas. Demikian pula sebaliknya.
Suatu saat saya sedang dalam keadaan sangat tertekan. Ketegangan, kesedihan dan rasa marah membuat kondisi fisik turun drastis. Saat itu saya sedang sendirian. Anak-anak sedang berlibur ke luar kota. Orang-orang terdekat yang paling saya harapkan sedang tidak dalam situasi bisa mendampingi saya. Migren menyiksa saya berhari-hari, tidak biasanya. Sakit luar biasa. Sedemikian sakitnya saya sampai-sampai terduduk menggantung di antara tempat tidur dan lantai, merintih menahan sakit. Tak berselera makan karena migren dalam waktu yang lama membuat saya mual.
(saya terhenti sejenak untuk menuliskan bagian ini...)
Adalah Awang, dengan pesan-pesannya terus menguatkan. Bukan dengan pesan-pesan sok perhatian dan berlebihan. Tapi dengan canda-canda yang walau saya harus tertawa sambil menahan sakit sungguh seperti tangan yang menggenggam erat. Sebuah dukungan yang ditunjukkannya selama saya bergumul dengan sakit dan pikiran-pikiran buruk. Awang waktu itu belum tahu kalau saya mengidap bipolar, yang salah satu gejalanya adalah depresi yang dalam batas kekuatan tertentu bisa secara tidak sadar mendorong pengidapnya berpikir untuk bunuh diri.
Yang dilakukan Awang hanya membanyol. Tapi yang luar biasa, entah apa yang dikorbankannya, ia tetap terus menjaga komunikasi dan tak membiarkan saya tak menjawabnya. Ia gunakan cara yang sederhana untuk tetap membuat saya tidak fokus pada penderitaan saya saat itu, api pada kelakar-kelakarnya. Tebak-tebakan plesetan yang menyebalkan saat itu adalah cara Awang menemani. Bukan dengan kata-kata menghibur manis yang berlebihan tapi dengan olok-olok canda dan saling mencela yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Dilakukannya hingga kami lelah oleh tawa dan hampir dini hari terlelap.
Keesokan harinya ia harus mengikuti wawancara perekrutan karyawan. Mengetahui ia tak dapat menemani sepenuhnya, Awang mengirimkan tautan lagu yang liriknya sangat saya sukai. Lagu yang sangat menguatkan dan menenangkan.
“Kamu dengerinnya fokus ya, sambil doa....” demikian pesannya.
Saat itu saya benar-benar sedang merasa sendirian. Dan Awang benar, mendengarkan lagu itu membuat saya tenang. Sebuah lagu tentang seorang penyelamat yang mencurahkan dan memberikan segalanya pada orang yang ia sangat kasihi, di atas segala-galanya.
Saya bukan orang relijius. Saya mendengarkan lagu itu dengan seksama tapi tidak berdoa. Pada siapa saya harus alamatkan doa saya ? Awang tahu saya orang yang sangat logis, yang segala sesuatunya saya kaji dengan logika dan ilmu pengetahuan. Yang saat ia memperbincangkan mujizat Yesus memberi makan 5000 orang saya malah membahas soal tak mungkinnya ada 5000 orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak berkumpul di suatu tempat hanya untuk mendengarkan pengajaran seorang rabi baru tanpa dibubarkan tentara Romawi yang saat itu berkuasa.
Kali ini berbeda, Awang tahu saya tidak dalam kondisi mampu memperdebatkan apa-apa. Saya hanya butuh sebuah cahaya kecil bagi jiwa yang sedang selamanya malam.
Lagu itu, membuat saya sesenggukan, melepas kemarahan dan duka. Tak merubah saya jadi relijius, tapi menguatkan saya. Lagi-lagi saya merasa tangan saya digenggam. Dalam kenadiran saya dibantu berdiri oleh sebuah ketulusan pertemanan yang tak berbasis materi atau kepentingan.
Awang dan saya, kami hanya sama-sama suka tertawa sekencang-kencangnya. Merayakan keberanian mengarungi hidup.
Benarkah malaikat ada ? Bagi saya hampir seperti dongeng. Hampir seumur hidup saya tidak pernah menemukan bukti bahwa malaikat ada. Tidak sampai saya benar-benar mendengar tawa saya sendiri yang begitu kerasnya dan bukan tawa pura-pura.
Saat berada di tengah keramaian menghadiri acara bersama kawan-kawan saya sering tertawa, bersahut-sahutan dengan kelakar keroyokan. Tapi membuat saya tertawa di tengah kondisi nadir, nyaris putus asa dan amarah ? Hanya seorang teman dengan ketulusan melebihi ketulusan air mata yang jatuh tanpa berharap bisa kembali yang bisa melakukannya.
Awang (bukan nama sebenarnya) saya kenal dari lingkungan gereja tempat saya beribadah hampir setiap Minggu. Saya keberatan dibilang Kristen tapi karena meditasi mingguan ini saya lakukan di gereja yang bagi saya adalah cara tercocok mencapai relaksasi spiritual, maka dengan bersungut-sungut dalam hati, saya hanya tersenyum pasrah bila dituduh Kristen.
Awang adalah pengerja di kebaktian ke-6 setiap minggunya. Sosoknya dengan tinggi di atas rata-rata orang Indonesia, dengan wajah khas oriental tapi dengan kelebihan mata yang lebih bundar membuatmya sangat tampan. Mustahil ada perempuan yang tak memperhatikan kehadirannya. Saya juga.
Saya anggap itu bonus lucu-lucuan saja, tak pernah terbersit keinginan kenal lebih jauh atau ingin tahu. Dia hanya sepotong kebaikan hidup yang tak punya pengaruh apa-apa. Saat meninggalkan kebaktian pukul 18.00 wib, satu lantai di bawahnya, di food court sebuah mal yang paling membuat macet sepanjang jalan Prof. Satrio, bertebaran laki-laki muda menarik. Bisa ditemukan dimana pun. Tak ada yang istimewa membicarakan laki-laki tampan di Jakarta. Ada dimana-mana.
Saya bahkan tidak pernah ingat kenapa Awang ada di dua akun facebook saya. Mungkin saling menambahkan sebagai teman itu terjadi saat saya ikut berpartisipasi ikut menjadi anggota paduan suara kebaktian kebangunan rohani Natal gereja tersebut dua tahun lalu.
Singkat cerita oleh seorang pengerja gereja yang saya kenal saat dipaksa menjadi pemandu lagu rutin di kebaktian para karyawan dan profesional setiap Jumat siang, saya menerima undangan bergabung di sebuah grup blackberry yang berisi pengerja gereja tersebut. Tapi terus terang karena segan menolak saja. Saya sudah berpikir akan meninggalkan grup tersebut setelah beberapa waktu.
Ternyata Awang juga ada di daftar anggota grup tersebut. Dan perkiraanku karena kami memang sudah terkoneksi di facebook dan ada dalam satu grup yang sama, ia berinisiatif menambahkan saya sebagai kontak blackberry'nya. Tak ada masalah.
Beberapa bulan setelah itu saya menerima broadcast message (pesan ke semua kontak) dari Awang. Promosi obat herbal yang dijamin asli tapi dengan harga lumayan murah. Kontak pertama kami adalah tanya jawab soal obat tersebut.
Lagi-lagi saya lupa bagaimana awalnya kami bisa saling berkirim pesan dengan isi percakapan yang lebih santai. Awalnya saya agak terganggu kebiasaannya mengakhiri setiap pesan dengan “hehehe” yang di”auto-text”kan dengan lambang yang menurut saya sangat kekanak-kanakan dan menjengkelkan. Dari kebiasaannya itu saya jadi bisa memperkirakan umurnya. Pasti belum menyentuh angka tiga puluh. Padahal saya mengira dia sudah berumur antara 35 hingga 38 tahun. Tanpa bermaksud mengatakan Awang berwajah “boros”, mungkin karena saya selalu melihatnya dengan setelan jas komplit setiap ia bertugas Hari Minggu maka saya berkesimpulan seperti itu.
Saling berkirim pesan membuat kami bertambah akrab. Aneh, kami seperti sudah berteman bertahun-tahun lamanya. Awang ternyata sangat lucu dan periang. Kelebihan fisik dan umur yang sangat muda tak membuatnya merasa risih berteman dengan perempuan yang jauh lebih tua dengan status ibu tunggal. Dia ringan tangan membantu apa yang bisa dibantunya termasuk tak sungkan-sungkan ikut membantu menjadi pemandu lagu saat saya mengatakan bahwa kami kekurangan pemandu lagu di suatu Jumat siang..
Saya tak merasa harus menjadi orang lain saat berinteraksi dengannya. Kami bisa tiba-tiba bersikap seperti anak-anak yang sedang bermain-main dan sesaat kemudian selayaknya dua orang dewasa yang berdiskusi soal apa saja.
Yang paling membuat saya nyaman, Awang tulus sebagai teman. Tak pernah sedikit pun ia memperlihatkan sikap yang dia tahu akan membuat saya tak nyaman karena merasa dia punya maksud atau perasaan tertentu terhadap saya yang melebihi relasi pertemanan. SANGAT LANGKA !
Awang ternyata cerewet dan suka ngobrol. Tapi ia tidak terlalu tertarik dunia gerakan sosial dan politik yang saya senang cermati. Tapi dengan seksama ia mendengarkan saat saya membicarakan hal-hal yang tak disukainya itu. Ia adalah pendengar yang baik. Sesekali Awang menyelipkan lelucuan.
Ada saat Awang mencurahkan kekesalan, kesedihan dan kekecewaan yang dialaminya. Atau apa yang olehnya disebut pengakuan memalukan, yang tak mungkin diutarakannya pada teman lain yang kebanyakan sebaya atau pada teman dari dari lingkungan gereja tempatnya selama ini berkegiatan.
Pada saya, ia bebas mengutarakan apa saja tanpa pernah merasa dihakimi atau dinilai tak pantas. Demikian pula sebaliknya.
Suatu saat saya sedang dalam keadaan sangat tertekan. Ketegangan, kesedihan dan rasa marah membuat kondisi fisik turun drastis. Saat itu saya sedang sendirian. Anak-anak sedang berlibur ke luar kota. Orang-orang terdekat yang paling saya harapkan sedang tidak dalam situasi bisa mendampingi saya. Migren menyiksa saya berhari-hari, tidak biasanya. Sakit luar biasa. Sedemikian sakitnya saya sampai-sampai terduduk menggantung di antara tempat tidur dan lantai, merintih menahan sakit. Tak berselera makan karena migren dalam waktu yang lama membuat saya mual.
(saya terhenti sejenak untuk menuliskan bagian ini...)
Adalah Awang, dengan pesan-pesannya terus menguatkan. Bukan dengan pesan-pesan sok perhatian dan berlebihan. Tapi dengan canda-canda yang walau saya harus tertawa sambil menahan sakit sungguh seperti tangan yang menggenggam erat. Sebuah dukungan yang ditunjukkannya selama saya bergumul dengan sakit dan pikiran-pikiran buruk. Awang waktu itu belum tahu kalau saya mengidap bipolar, yang salah satu gejalanya adalah depresi yang dalam batas kekuatan tertentu bisa secara tidak sadar mendorong pengidapnya berpikir untuk bunuh diri.
Yang dilakukan Awang hanya membanyol. Tapi yang luar biasa, entah apa yang dikorbankannya, ia tetap terus menjaga komunikasi dan tak membiarkan saya tak menjawabnya. Ia gunakan cara yang sederhana untuk tetap membuat saya tidak fokus pada penderitaan saya saat itu, api pada kelakar-kelakarnya. Tebak-tebakan plesetan yang menyebalkan saat itu adalah cara Awang menemani. Bukan dengan kata-kata menghibur manis yang berlebihan tapi dengan olok-olok canda dan saling mencela yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Dilakukannya hingga kami lelah oleh tawa dan hampir dini hari terlelap.
Keesokan harinya ia harus mengikuti wawancara perekrutan karyawan. Mengetahui ia tak dapat menemani sepenuhnya, Awang mengirimkan tautan lagu yang liriknya sangat saya sukai. Lagu yang sangat menguatkan dan menenangkan.
“Kamu dengerinnya fokus ya, sambil doa....” demikian pesannya.
Saat itu saya benar-benar sedang merasa sendirian. Dan Awang benar, mendengarkan lagu itu membuat saya tenang. Sebuah lagu tentang seorang penyelamat yang mencurahkan dan memberikan segalanya pada orang yang ia sangat kasihi, di atas segala-galanya.
Saya bukan orang relijius. Saya mendengarkan lagu itu dengan seksama tapi tidak berdoa. Pada siapa saya harus alamatkan doa saya ? Awang tahu saya orang yang sangat logis, yang segala sesuatunya saya kaji dengan logika dan ilmu pengetahuan. Yang saat ia memperbincangkan mujizat Yesus memberi makan 5000 orang saya malah membahas soal tak mungkinnya ada 5000 orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak berkumpul di suatu tempat hanya untuk mendengarkan pengajaran seorang rabi baru tanpa dibubarkan tentara Romawi yang saat itu berkuasa.
Kali ini berbeda, Awang tahu saya tidak dalam kondisi mampu memperdebatkan apa-apa. Saya hanya butuh sebuah cahaya kecil bagi jiwa yang sedang selamanya malam.
Lagu itu, membuat saya sesenggukan, melepas kemarahan dan duka. Tak merubah saya jadi relijius, tapi menguatkan saya. Lagi-lagi saya merasa tangan saya digenggam. Dalam kenadiran saya dibantu berdiri oleh sebuah ketulusan pertemanan yang tak berbasis materi atau kepentingan.
Awang dan saya, kami hanya sama-sama suka tertawa sekencang-kencangnya. Merayakan keberanian mengarungi hidup.
06 September 2011
Crucified
A single tear hung on the cross that hung between earth and sky,
without a chance to speak....
When it dries up and dies, no tomb can raise it again,
even if an angel walked.
It will only be a day of tragedy that will soon disappear from memory
without ever recorded by any holy book
without a chance to speak....
When it dries up and dies, no tomb can raise it again,
even if an angel walked.
It will only be a day of tragedy that will soon disappear from memory
without ever recorded by any holy book
05 September 2011
Menemukan Jalan Pulang : Lingkaran Kekuatan
Catatan pengantar :
Aku berterima kasih pada seorang pendiri grup yang dalam catatan ini aku paparkan. Ia menginspirasiku untuk melakukan segala sesuatu dengan memulainya dari langkah sederhana : membangun lingkaran kecil dukungan demi pemulihan, demi perubahan.
Aku dengan tangan kecil ini, dengan nafas yang singkat ini, ingin sempat melakukan sesuatu.....
(jeda)
Biar bagaimanapun ini hasil bergaul dengan media sosial. Sekeras apapun argumen tentang berapa banyaknya waktu yang aku gunakan untk bermain-main, demikian kawan baikku menyebut aktivitasku yang dinilainya berlebihan di media sosial.
Dari media sosial aku “menemukan” grup ini. Bukti aku tak sekadar bersenang-senang saja dengan akun-akunku. Walau ia sangsi mengingat aku cukup sering mengeluhkan hal-hal pribadi di time line'ku. So what gitu loh, pembicara publik kaliber internasional saja melakukannya cukup sering kok aku tak boleh melakukannya sesekali, huh !
Soal protes itu aku tak terlalu memikirkannya. Hanya aku yang benar-benar tahu apa yang tengah kuyakini sebagai salah satu bentuk perjuangan, adalah lewat media sosial. Memanfaatkan jumlah koneksi yang ribuan. Membangun kesadaran dan kepedulian dari dunia manapun termasuk dunia maya. Dengan peringkat Indonesia yang rata-rata masuk lima besar pengguna media sosial di dunia, mustahil bila apapun yang disampaikan secara berulang-ulang nggak ada yang nyantol di kepala para pengguna media sosial. Paling tidak mereka tahu. Dari tahu diharapkan beberapa diantaranya akan peduli. Dari yang peduli aku yakin ada yang tergerak dan dari yang tergerak tentu ada yang mewujudkannya dalam gerakan nyata. Aku terus mempercayainya. Tak ada sesuatu yang ditanamkan dengan tekun yang tidak berbuah.
Intinya aku memang keras kepala dan sulit ditundukkan terutama pada apa yang aku yakini benar.
Dari Dari beberapa postingan sebuah grup yang aku temukan di twitter, aku mendapati semacam “jalan pulang”. Memberanikan diri bertanya lebih jauh perihal grup tersebut membawaku ke sebuah perjuangan yang makin mengerucut. Aku menemukan potongan diriku yang aku kira sudah tak akan kutemukan lagi.........
Juni 2011
Jantung berdegup kencang. Sejak turun dari ojek aku tak berhenti menguatkan diri. Setelah masuk pintu oranye sesuai panduan perempuan yang masih berbicara denganku di telepon genggam, aku mendapati tangga menuju lantai atas sesuai yang dikatakannya. Di sana hanya ada 4 orang perempuan yang sedang duduk di lantai keramik putih bersih. Semua terlihat santai. Tidak seperti bayanganku semula, dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak dan tentu lebih menakutkanku. Ini kali pertama aku bergabung dengan sebuah grup berbagi, demikian aku awalnya aku menamai grup ini. Di dalamnya tegak perempuan-perempuan kuat yang berhasil bertahan dari ganasnya sejarah.
Kami survivor kekerasan seksual masa kanak-kanak. Menyebutkan hal ini, butuh banyak keberanian. Keberanian mengaku dan menerima. Keberanian berbagi dan saling menguatkan. Keberanian menyuarakan dan membangun kekuatan unuk mencegah hal yang sama berulang.
Pada pertemuan pertama kami lebih banyak memperbincangkan kasus penculikan dan pemerkosaan yang menimpa bayi perempuan yang baru berumur 8 bulan. Kemarahan tak tertahankan membuat kami bergantian memaki pelakunya dengan berbagai umpatan dan kutukan. Luapan kemarahan yang luar biasa. Meledak dan menyakiti. Sesungguhnya menyakiti diri kami.
Kami menyimpan murka pada para predator seksual yang hanya berani melakukannya pada anak-anak. Yang bagi kami, tak berhasil membangun konsep diri sebagai manusia. Kami sebut mereka, para predator seksual yang melakukan perbuatannya pada anak-anak, BINATANG. Sebutan yang keluar begitu saja karena terdorong emosi sesaat.
Ada rasa ingin menangkap predator ini hidup-hidup dan menyiksanya. Aku juga. Sangat. Para predator ini tak pernah tahu kerusakan apa yang mereka ciptakan di masa si korban tumbuh dewasa.
Padaku, kerusakan itu sedemian parahnya..... It's a long term damages!
Pada kasusku, keinginan itu sudah terkubur dalam-dalam. Sedemikian dalamnya hingga aku hampir-hampir tak mampu menggali kembali meski hanya berbentuk kenangan. Sudah terkubur bersama pelakunya yang sudah beberapa tahun mangkat.
Seorang psikolog dalam grup ini menyebutnya mekanisme hebat otak manusia yang entah bagaimana caranya secara otomatis membuat para survivor melupakan apa yang dialaminya. Sesuatu yang dirasa tak pantas diingat atau terlalu menjijikan untuk menjadi bagian dari ingatan.
Aku percaya tak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Di dalam grup ini ada beragam profesi, mulai dari penulis, akademisi, paramedik dan sebagainya. Di pertemuan selanjutnya ada profesional muda, juga jurnalis senior. Bencana ini tak memilih orang tertentu dari bangsa tertentu. Ia merusak, menghantui dan menimbulkan kerusakan besar dalam jangka waktu yang panjang. Dari yang pernah mengalaminya, ia meninggalkan lubang besar dalam dan gelap. Di dalamnya kami pernah berkubang merasa nista dan sendirian, sampai kami bertemu dan saling berpegangan tangan dalam sebuah lingkaran. Saling menguatkan dan memberi ruang. Ruang untuk menghela nafas sedalam-dalamnya, memberi oksigen baru bagi paru-paru jiwa yang kepayahan dimakan rutinitas yang mengubur sedalam-dalamnya kesadaran untuk memulihkan diri dari kenangan-kenangan hitam yang tak pernah kami inginkan terjadi di masa kanak-kanak kami.
Sebagian dari kami masih bermata duka dan luka. Masih mencari jawab atas apa yang telah terjadi dan mengapa harus menimpa kami yang saat mengalaminya adalah tunas mungil yang harusnya dijaga kemurnian dan kepolosannya. Kebeningan mata kanak-kanak yang lalu digelayuti mendung yang hampir abadi. Yang sewaku-waktu menjelma hujan saat potongan-potongan kenangan itu datang tanpa permisi. Melukai berkali-kali.
Setiap dari kami percaya, lingkaran ini adalah lingkaran pemulihan. Setiap seorang dari kami berbagi kisah baru, ia tak lagi menjelma luka, tapi ketegaran. Semakin mengerikan kisah yang kami bagi, semakin kuat kami bergenggaman tangan. It helps, a big help.
(jeda hening)
Untuk pertama kalinya secara detail aku menceritakan apa yang terjadi pada diriku hampir 33 tahun yang lalu saat sepanjang ingatanku, seorang pemuda, anak ke-3 tetangga sebelah rumah, berumur sekitar 18 hingga 20 tahun saat itu melakukan pelecehan seksual yang merupakan pengalaman awal pembuka ikatan ingatan akan perlakuan tak senonoh lain yang terjadi atas diriku saat umurku masih kanak-kanak. Masa kanak-kanak yang sungguh mengerikan dan menyedihkan.
Memori kecilku mencatat beberapa kejadian mengerikan baik yang langsung aku alami maupun tidak. Tidak langsung berarti aku menyaksikan. Kekerasan dan pelecehan. Tidak di luar rumah, tapi di dalam rumah tempat aku diasuh. Dimana seharusnya aku memperoleh kasih sayang dan perlindungan dari orang-orang dewasa terdekat, yang oleh kita disebut keluarga dalam. Tapi tidak, penghinaan seumur hidup itu justru paling parah aku alami dari orang dewasa terdekat yang mengasuhku saat itu. Bukan laki-laki, tapi perempuan. Ibu dari mamaku yang kupanggil oma. Oma kandungku sendiri!
Malam itu, di pertemuan pertama, dengan hati yang sesungguhnya hancur (lagi) aku membagi kenangan hitam tentang oma yang entah sengaja atau tak sengaja dalam waktu yang cukup panjang telah melakukan yang kini aku pahami sebagai kekerasan seksual padaku. Waktu itu umurku masih sekitar 8 tahun, saat ia memulainya. Hampir setiap saat hingga aku berumur 11 tahun dan sesudahnya terus menyaksikan kerasan demi kekerasan hingga aku berumur sekitar 13 tahun.
Malam itu aku terlalu arogan untuk menangis. Mengakuinya sebagai pengakuan kedua setelah melakukannya pada psikiater bertahun-tahun yang lalu. Sesungguhnya secara detail, baru malam itu aku berani mengakuinya. Di depan survivor lain. Karena di situ aku merasa tak sendirian lagi. Merasa bersama yang lainnya yang juga pernah mengalami hal yang sama.
Dari lingkaran itu, meskipun di pertemuan pertama, aku menemukan kekuatan yang lebih segar. Kekuatan untuk mengakui, untuk menerima bahwa aku mengalami hal yang jauh lebih buruk dari yang ingin aku ingat. Bukan penyangkalan.
Bahkan hingga bagian ini aku tuliskan aku tak sempat menguraikan pada para survivor lain betapa aku merasa hampir seluruh tubuhnya kebas hingga aku tiba di rumah beberapa jam kemudian. Tentu karena pengaruh psikis yang cukup kuat menjalar cepat menjadi efek fisik.
“Membongkar” ingatan yang membuatku tak nyaman setengah mati, membuatku marah luar biasa berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Yang juga berimbas pada orang-orang terdekatku. Aku jadi sangat sensitif waktu itu. Sedikit pemicu, bisa meledakkan emosiku dengan membabi-buta. Menyakiti tak hanya orang-orang terdekatku, juga diriku sendiri. Ada binatang buas meraung-raung dalam diriku yang minta dilepaskan dan siap menerkam siapapun yang menyakiti. Aku seperti ingin melukai siapapun, memroyeksikan kesakitanku dengan menyakiti orang lain, terutama orang-orang terdekat. Secara fisik, aku menyakiti diriku dengan membiarkan tubuhku lelah dan tersiksa. Tidak makan teratur dan tidak tidur berhari-hari. Melibatkan diri pada pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan secara fisik dan mental. Aku benar-benar terluka oleh ingatan dan kenyataan bahwa aku pernah mengalaminya. Malu dan perasaan sanga terhina menghntui kemanapun dan kapanpun. Sampai suatu saat aku lelah. Lelah marah, lelah menyiksa diri. Aku tidak pantas memperlaukan diriku seperti itu, karena bukan salahku menerima perlakuan tak sepantasnya di usia sebelia itu. Si pelakulah yang harus dihukum, bukan aku. Selama berminggu-minggu aku justru menghukum diriku sendiri.
Beruntung di sebuah media sosial aku berkoneksi dengan sebuah lembaga anti kekerasa pada anak yang berbasis di Amerika Serikat. Dengan bekal koneksitas itu setiap hari aku mengikuti apa yang mereka posting tentang bahwa sesungguhnya anak-anak berhak mendapat penghormatan dan penghargaan yang proposional dari orang tuanya. Bahwa anak-anak korban kekerasan & kekerasan seksual adalah mereka yang layak didengar dan dianggap serius keluhannya. Bahwa bila hal tersebut terjadi maka orang tualah yang paling bertanggung jawab dalam hal ini, yang paling berkewajiban melindungi anak-anaknya dari para predator seksual.
Dari berbagai sumber aku mendapatkan bahwa cara paling tepat menghindari hal tersebut terjadi adalah dengan mencegahnya.
Salah satu usaha adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan seksual ini beserta efeknya sebagai upaya pencegahan dini.
Bahwa dibalik kekerasan seksual pada anak, ada banyak faktor yang membuat situasi ini menjadi mungkin seperti diantaranya pola pikir maskulin dan macho dari budaya patriaki yang memandang bahwa dengan mengontrol dan mendominasi pihak lain yang dianggap lebih lemah maka menjadi lambang kekuasaan dan kekuatan mutlak. Bahwa fundamentalisme dan ideologi radikal tertentu telah menjadi penyumbang besar terhadap lahirnya para predator seksual yang “berkemasan” lebih terpandang, santun dan mempesona di mata masyarakat.
Bahwa kondisi ekonomi juga turut ambil bagian menjadi salah satu alasan mengapa seorang dewasa melakukan aktifitas pelampiasan seksualnya pada anak-anak yang sejatinya mahluk yang tidak berdaya untuk melawan apalagi mengerti apa yang menimpanya. Belum lagi faktor penyimpangan psikis. Rumit sekali....
Hanya dua hal bagi seorang survivor sepertiku pahami, whatever happened, sexual predator is sick and no one deserved that !
(jeda hening)
pada malam-malam aku padam
kenangan memburu, membunuh
tapi tidak mati, hampir mati
cukup sebuah lubang yang dalam
dimana kusimpan dengan berduka
segaris masa......
Aku berterima kasih pada seorang pendiri grup yang dalam catatan ini aku paparkan. Ia menginspirasiku untuk melakukan segala sesuatu dengan memulainya dari langkah sederhana : membangun lingkaran kecil dukungan demi pemulihan, demi perubahan.
Aku dengan tangan kecil ini, dengan nafas yang singkat ini, ingin sempat melakukan sesuatu.....
(jeda)
Biar bagaimanapun ini hasil bergaul dengan media sosial. Sekeras apapun argumen tentang berapa banyaknya waktu yang aku gunakan untk bermain-main, demikian kawan baikku menyebut aktivitasku yang dinilainya berlebihan di media sosial.
Dari media sosial aku “menemukan” grup ini. Bukti aku tak sekadar bersenang-senang saja dengan akun-akunku. Walau ia sangsi mengingat aku cukup sering mengeluhkan hal-hal pribadi di time line'ku. So what gitu loh, pembicara publik kaliber internasional saja melakukannya cukup sering kok aku tak boleh melakukannya sesekali, huh !
Soal protes itu aku tak terlalu memikirkannya. Hanya aku yang benar-benar tahu apa yang tengah kuyakini sebagai salah satu bentuk perjuangan, adalah lewat media sosial. Memanfaatkan jumlah koneksi yang ribuan. Membangun kesadaran dan kepedulian dari dunia manapun termasuk dunia maya. Dengan peringkat Indonesia yang rata-rata masuk lima besar pengguna media sosial di dunia, mustahil bila apapun yang disampaikan secara berulang-ulang nggak ada yang nyantol di kepala para pengguna media sosial. Paling tidak mereka tahu. Dari tahu diharapkan beberapa diantaranya akan peduli. Dari yang peduli aku yakin ada yang tergerak dan dari yang tergerak tentu ada yang mewujudkannya dalam gerakan nyata. Aku terus mempercayainya. Tak ada sesuatu yang ditanamkan dengan tekun yang tidak berbuah.
Intinya aku memang keras kepala dan sulit ditundukkan terutama pada apa yang aku yakini benar.
Dari Dari beberapa postingan sebuah grup yang aku temukan di twitter, aku mendapati semacam “jalan pulang”. Memberanikan diri bertanya lebih jauh perihal grup tersebut membawaku ke sebuah perjuangan yang makin mengerucut. Aku menemukan potongan diriku yang aku kira sudah tak akan kutemukan lagi.........
Juni 2011
Jantung berdegup kencang. Sejak turun dari ojek aku tak berhenti menguatkan diri. Setelah masuk pintu oranye sesuai panduan perempuan yang masih berbicara denganku di telepon genggam, aku mendapati tangga menuju lantai atas sesuai yang dikatakannya. Di sana hanya ada 4 orang perempuan yang sedang duduk di lantai keramik putih bersih. Semua terlihat santai. Tidak seperti bayanganku semula, dengan jumlah peserta yang jauh lebih banyak dan tentu lebih menakutkanku. Ini kali pertama aku bergabung dengan sebuah grup berbagi, demikian aku awalnya aku menamai grup ini. Di dalamnya tegak perempuan-perempuan kuat yang berhasil bertahan dari ganasnya sejarah.
Kami survivor kekerasan seksual masa kanak-kanak. Menyebutkan hal ini, butuh banyak keberanian. Keberanian mengaku dan menerima. Keberanian berbagi dan saling menguatkan. Keberanian menyuarakan dan membangun kekuatan unuk mencegah hal yang sama berulang.
Pada pertemuan pertama kami lebih banyak memperbincangkan kasus penculikan dan pemerkosaan yang menimpa bayi perempuan yang baru berumur 8 bulan. Kemarahan tak tertahankan membuat kami bergantian memaki pelakunya dengan berbagai umpatan dan kutukan. Luapan kemarahan yang luar biasa. Meledak dan menyakiti. Sesungguhnya menyakiti diri kami.
Kami menyimpan murka pada para predator seksual yang hanya berani melakukannya pada anak-anak. Yang bagi kami, tak berhasil membangun konsep diri sebagai manusia. Kami sebut mereka, para predator seksual yang melakukan perbuatannya pada anak-anak, BINATANG. Sebutan yang keluar begitu saja karena terdorong emosi sesaat.
Ada rasa ingin menangkap predator ini hidup-hidup dan menyiksanya. Aku juga. Sangat. Para predator ini tak pernah tahu kerusakan apa yang mereka ciptakan di masa si korban tumbuh dewasa.
Padaku, kerusakan itu sedemian parahnya..... It's a long term damages!
Pada kasusku, keinginan itu sudah terkubur dalam-dalam. Sedemikian dalamnya hingga aku hampir-hampir tak mampu menggali kembali meski hanya berbentuk kenangan. Sudah terkubur bersama pelakunya yang sudah beberapa tahun mangkat.
Seorang psikolog dalam grup ini menyebutnya mekanisme hebat otak manusia yang entah bagaimana caranya secara otomatis membuat para survivor melupakan apa yang dialaminya. Sesuatu yang dirasa tak pantas diingat atau terlalu menjijikan untuk menjadi bagian dari ingatan.
Aku percaya tak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Di dalam grup ini ada beragam profesi, mulai dari penulis, akademisi, paramedik dan sebagainya. Di pertemuan selanjutnya ada profesional muda, juga jurnalis senior. Bencana ini tak memilih orang tertentu dari bangsa tertentu. Ia merusak, menghantui dan menimbulkan kerusakan besar dalam jangka waktu yang panjang. Dari yang pernah mengalaminya, ia meninggalkan lubang besar dalam dan gelap. Di dalamnya kami pernah berkubang merasa nista dan sendirian, sampai kami bertemu dan saling berpegangan tangan dalam sebuah lingkaran. Saling menguatkan dan memberi ruang. Ruang untuk menghela nafas sedalam-dalamnya, memberi oksigen baru bagi paru-paru jiwa yang kepayahan dimakan rutinitas yang mengubur sedalam-dalamnya kesadaran untuk memulihkan diri dari kenangan-kenangan hitam yang tak pernah kami inginkan terjadi di masa kanak-kanak kami.
Sebagian dari kami masih bermata duka dan luka. Masih mencari jawab atas apa yang telah terjadi dan mengapa harus menimpa kami yang saat mengalaminya adalah tunas mungil yang harusnya dijaga kemurnian dan kepolosannya. Kebeningan mata kanak-kanak yang lalu digelayuti mendung yang hampir abadi. Yang sewaku-waktu menjelma hujan saat potongan-potongan kenangan itu datang tanpa permisi. Melukai berkali-kali.
Setiap dari kami percaya, lingkaran ini adalah lingkaran pemulihan. Setiap seorang dari kami berbagi kisah baru, ia tak lagi menjelma luka, tapi ketegaran. Semakin mengerikan kisah yang kami bagi, semakin kuat kami bergenggaman tangan. It helps, a big help.
(jeda hening)
Untuk pertama kalinya secara detail aku menceritakan apa yang terjadi pada diriku hampir 33 tahun yang lalu saat sepanjang ingatanku, seorang pemuda, anak ke-3 tetangga sebelah rumah, berumur sekitar 18 hingga 20 tahun saat itu melakukan pelecehan seksual yang merupakan pengalaman awal pembuka ikatan ingatan akan perlakuan tak senonoh lain yang terjadi atas diriku saat umurku masih kanak-kanak. Masa kanak-kanak yang sungguh mengerikan dan menyedihkan.
Memori kecilku mencatat beberapa kejadian mengerikan baik yang langsung aku alami maupun tidak. Tidak langsung berarti aku menyaksikan. Kekerasan dan pelecehan. Tidak di luar rumah, tapi di dalam rumah tempat aku diasuh. Dimana seharusnya aku memperoleh kasih sayang dan perlindungan dari orang-orang dewasa terdekat, yang oleh kita disebut keluarga dalam. Tapi tidak, penghinaan seumur hidup itu justru paling parah aku alami dari orang dewasa terdekat yang mengasuhku saat itu. Bukan laki-laki, tapi perempuan. Ibu dari mamaku yang kupanggil oma. Oma kandungku sendiri!
Malam itu, di pertemuan pertama, dengan hati yang sesungguhnya hancur (lagi) aku membagi kenangan hitam tentang oma yang entah sengaja atau tak sengaja dalam waktu yang cukup panjang telah melakukan yang kini aku pahami sebagai kekerasan seksual padaku. Waktu itu umurku masih sekitar 8 tahun, saat ia memulainya. Hampir setiap saat hingga aku berumur 11 tahun dan sesudahnya terus menyaksikan kerasan demi kekerasan hingga aku berumur sekitar 13 tahun.
Malam itu aku terlalu arogan untuk menangis. Mengakuinya sebagai pengakuan kedua setelah melakukannya pada psikiater bertahun-tahun yang lalu. Sesungguhnya secara detail, baru malam itu aku berani mengakuinya. Di depan survivor lain. Karena di situ aku merasa tak sendirian lagi. Merasa bersama yang lainnya yang juga pernah mengalami hal yang sama.
Dari lingkaran itu, meskipun di pertemuan pertama, aku menemukan kekuatan yang lebih segar. Kekuatan untuk mengakui, untuk menerima bahwa aku mengalami hal yang jauh lebih buruk dari yang ingin aku ingat. Bukan penyangkalan.
Bahkan hingga bagian ini aku tuliskan aku tak sempat menguraikan pada para survivor lain betapa aku merasa hampir seluruh tubuhnya kebas hingga aku tiba di rumah beberapa jam kemudian. Tentu karena pengaruh psikis yang cukup kuat menjalar cepat menjadi efek fisik.
“Membongkar” ingatan yang membuatku tak nyaman setengah mati, membuatku marah luar biasa berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Yang juga berimbas pada orang-orang terdekatku. Aku jadi sangat sensitif waktu itu. Sedikit pemicu, bisa meledakkan emosiku dengan membabi-buta. Menyakiti tak hanya orang-orang terdekatku, juga diriku sendiri. Ada binatang buas meraung-raung dalam diriku yang minta dilepaskan dan siap menerkam siapapun yang menyakiti. Aku seperti ingin melukai siapapun, memroyeksikan kesakitanku dengan menyakiti orang lain, terutama orang-orang terdekat. Secara fisik, aku menyakiti diriku dengan membiarkan tubuhku lelah dan tersiksa. Tidak makan teratur dan tidak tidur berhari-hari. Melibatkan diri pada pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan secara fisik dan mental. Aku benar-benar terluka oleh ingatan dan kenyataan bahwa aku pernah mengalaminya. Malu dan perasaan sanga terhina menghntui kemanapun dan kapanpun. Sampai suatu saat aku lelah. Lelah marah, lelah menyiksa diri. Aku tidak pantas memperlaukan diriku seperti itu, karena bukan salahku menerima perlakuan tak sepantasnya di usia sebelia itu. Si pelakulah yang harus dihukum, bukan aku. Selama berminggu-minggu aku justru menghukum diriku sendiri.
Beruntung di sebuah media sosial aku berkoneksi dengan sebuah lembaga anti kekerasa pada anak yang berbasis di Amerika Serikat. Dengan bekal koneksitas itu setiap hari aku mengikuti apa yang mereka posting tentang bahwa sesungguhnya anak-anak berhak mendapat penghormatan dan penghargaan yang proposional dari orang tuanya. Bahwa anak-anak korban kekerasan & kekerasan seksual adalah mereka yang layak didengar dan dianggap serius keluhannya. Bahwa bila hal tersebut terjadi maka orang tualah yang paling bertanggung jawab dalam hal ini, yang paling berkewajiban melindungi anak-anaknya dari para predator seksual.
Dari berbagai sumber aku mendapatkan bahwa cara paling tepat menghindari hal tersebut terjadi adalah dengan mencegahnya.
Salah satu usaha adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan seksual ini beserta efeknya sebagai upaya pencegahan dini.
Bahwa dibalik kekerasan seksual pada anak, ada banyak faktor yang membuat situasi ini menjadi mungkin seperti diantaranya pola pikir maskulin dan macho dari budaya patriaki yang memandang bahwa dengan mengontrol dan mendominasi pihak lain yang dianggap lebih lemah maka menjadi lambang kekuasaan dan kekuatan mutlak. Bahwa fundamentalisme dan ideologi radikal tertentu telah menjadi penyumbang besar terhadap lahirnya para predator seksual yang “berkemasan” lebih terpandang, santun dan mempesona di mata masyarakat.
Bahwa kondisi ekonomi juga turut ambil bagian menjadi salah satu alasan mengapa seorang dewasa melakukan aktifitas pelampiasan seksualnya pada anak-anak yang sejatinya mahluk yang tidak berdaya untuk melawan apalagi mengerti apa yang menimpanya. Belum lagi faktor penyimpangan psikis. Rumit sekali....
Hanya dua hal bagi seorang survivor sepertiku pahami, whatever happened, sexual predator is sick and no one deserved that !
(jeda hening)
pada malam-malam aku padam
kenangan memburu, membunuh
tapi tidak mati, hampir mati
cukup sebuah lubang yang dalam
dimana kusimpan dengan berduka
segaris masa......
06 May 2011
Solidaritas Dua Arah
MEDIO Februari yang lalu saya berkesempatan melakukan pendampingan aktif ke sebuah rumah tampung dan rehabilitasi pecandu zat adiktif yang juga sekaligus pengidap HIV/AIDS di bilangan Cibubur Jawa Barat. Setelah hampir dua bulan dan karena makin akrab dengan para pengelolanya saya mendapat informasi bahwa selain seorang mantan pejabat yang berbaik hati menghibahkan salah satu rumahnya untuk menjadi rumah tampung bagi kurang lebih 30 puluh adik yang kami dampingi, terselenggaranya rumah rehabilitasi tersebut juga atas pembiayaan pemerintah dan beberapa organisasi asing yang program-program bantuan ke negara-negara berkembangnya mengandalkan dana dari pemerintah negaranya, salah satunya Kanada.
Perihal pembicaraan di antara kami para pendamping dan pengelola rumah rehabilitasi sebenarnya tak benar-benar membicarakan persoalan dari mana bantuan berasal, yang menairik perhatian adalah saat saya menangkap hal yang hampir sama dengan yang pernah saya rekam dalam sebuah pembicaraan saat tahun lalu saya bekerja mendampingi seorang pekerja dari sebuah lembaga bantuan asing yang juga menyampaikan hal yang nyaris sama. Lebih tepat "tantangan" yang sama.
Salah seorang pengelola mengeluhkan semacam "peringatan" halus dari salah satu organisasi tersebut, kebetulan dari Kanada, tentang kemungkinan dikuranginya jumlah atau bahkan pemberhentian pendanaan dari pemerintahan Kanada karena regulasi pemerintah yang kini memimpin memang tidak "ramah" pada program-program bantuan ke negara-negara berkembang seperti Indonesia mengingat pimpinan pemerintahan yang kini berkuasa hampir mirip dengan diktator yang tak berpihak pada isu-isu kemanusiaan.
JUJUR saya bukan pengamat, mengerti atau mencermati kegiatan politik luar negeri. Jangankan luar negeri, dalam negeri pun saya malas mencermatinya apalagi luar negeri apalagi secara khusus negara tertentu, namun menarik dan menggoda saya untuk menuliskan sesuatu dari apa yang saya dengar meskipun itu hanya potongan-potongan informasi yang saya coba rangkai menjadi sebuah catatan sederhana.
STEPHEN HARPER, pemimpin Kanada kini, adalah salah seorang pendiri Partai Reformasi yang kemudian setelah pemimpinnya digulingkan tahun 2002 kemudian berubah menjadi Aliansi Kanada lalu bergabung dengan Partai Konservatif Progresif dan membentuk Partai Konservatif Kanada. Harper terpilih seagai pemimpin pertama partai yang baru itu pada Maret 2004 lalu memimpin Partai Konservatif untuk membentuk sebuah pemerintahan minoritas dalam pemilu federal Januari 2006.
Beberapa bulan terakhir, Harper adalah sosok yang menuai banyak kecaman akibat hampir semua kebijakannya dianggap mencederai rasa keadilan sebagian rakyat Kanada. Harper disamakan dengan diktator akibat cara-caranya menguasai hampir lini-lini strategis dengan cara pengawasan penuh langsung yang dirasa tidak terbuka dan kurang demokratis.
Harper yang sangat "sayap kanan" ini juga dinilai tidak peka pada isu lingkungan hidup dan perubahan iklim ekstrim karena dekat dengan kaum pengusaha pertambangan yang konon menjadi pendana utama partainya.
Tidak pekanya Harper terhadap isu-isu sosial menyangkut kemanusiaan membuat Harper tidak populer di kalangan lembaga swadaya masyarakat Kanada. Ketidakpekaannya secartercermin pada program-progam CIDA (Canadian International Development Agency) atau Badan Pembangunan Internasional Kanada yang memiliki misi utama mendukung upaya internasional untuk membantu orang yang hidup dalam kemiskinan.
Bocoran dari seorang kawan, kini pendanaan CIDA untuk seluruh programnya di hampir seluruh dunia mulai mengalami semacam "penyempitan" cukup serius akibat kebijakan pemerintahan Harper yang secara nyata makin lama makin tak berpihak pada isu-isu kemanusiaan. Wah !
SAYA kembali lagi pada pembicaraan dengan pengelola rumah rehabilitasi yang hampir mirip keluhan seorang pekerja lembaga bantuan internasional asal kanada yang saya sampaikan di awal tulisan ini.
Keduanya mengutarakan kegelisahan yang sama perihal bantuan yang mulai terancam alirannya, efek tak langsung dari kebijakan pemerintahan Harper yang disebut-sebut sebagai pemimpin diktator Kanada pertama.
SENIN, 2 Mei yang lalu Kanada mengadakan pemilihan umum yang dimenangkan oleh Partai Konservatif pimpinan Perdana Menteri Stephen Harper. Harper unggul berkat kampanye yang mengangkat perosoalan ekonomi yang memang pernah membuatnya sempat populer saat berhasil membawa Kanada melewati masa kesulitan ekonomi global sekitar tahun 2008-2009.
Harper akan kembali memimpin Kanada untuk empat tahun ke depan. Mungkin kegelisahan saya tidak sama dengan kegelisahan sebagian rakyat Kanada yang merasa dipimpin seorang diktator namun juga cemas dengan situasi ekonomi global yang labil sehingga mendorong mereka melakukan keputusan sulit saat berada dalam bilik pemilihan.
Kegelisahan saya lebih pada implikasi akibat tak langsung memimpinnya kembali Harper terhadap bantuan negara Kanada terhadap program-program kemanusiaan internasional, tentu khususnya ke Indonesia.
ALASAN saya sederhana, setelah apa yang beberapa pihak usahakan untuk membantu dan ikut peduli pada Indonesia, apakah kita juga cukup punya sedikit saja ruang dalam hati untuk turut merasakan apa yang beberpa kawan di luar sana rasakan menyangkut perkembangan dan kegiatan politik di negaranya ?
Saya menyebutnya Solidaritas Dua Arah :)
Jakarta, 6 Mei 2011
Perihal pembicaraan di antara kami para pendamping dan pengelola rumah rehabilitasi sebenarnya tak benar-benar membicarakan persoalan dari mana bantuan berasal, yang menairik perhatian adalah saat saya menangkap hal yang hampir sama dengan yang pernah saya rekam dalam sebuah pembicaraan saat tahun lalu saya bekerja mendampingi seorang pekerja dari sebuah lembaga bantuan asing yang juga menyampaikan hal yang nyaris sama. Lebih tepat "tantangan" yang sama.
Salah seorang pengelola mengeluhkan semacam "peringatan" halus dari salah satu organisasi tersebut, kebetulan dari Kanada, tentang kemungkinan dikuranginya jumlah atau bahkan pemberhentian pendanaan dari pemerintahan Kanada karena regulasi pemerintah yang kini memimpin memang tidak "ramah" pada program-program bantuan ke negara-negara berkembang seperti Indonesia mengingat pimpinan pemerintahan yang kini berkuasa hampir mirip dengan diktator yang tak berpihak pada isu-isu kemanusiaan.
JUJUR saya bukan pengamat, mengerti atau mencermati kegiatan politik luar negeri. Jangankan luar negeri, dalam negeri pun saya malas mencermatinya apalagi luar negeri apalagi secara khusus negara tertentu, namun menarik dan menggoda saya untuk menuliskan sesuatu dari apa yang saya dengar meskipun itu hanya potongan-potongan informasi yang saya coba rangkai menjadi sebuah catatan sederhana.
STEPHEN HARPER, pemimpin Kanada kini, adalah salah seorang pendiri Partai Reformasi yang kemudian setelah pemimpinnya digulingkan tahun 2002 kemudian berubah menjadi Aliansi Kanada lalu bergabung dengan Partai Konservatif Progresif dan membentuk Partai Konservatif Kanada. Harper terpilih seagai pemimpin pertama partai yang baru itu pada Maret 2004 lalu memimpin Partai Konservatif untuk membentuk sebuah pemerintahan minoritas dalam pemilu federal Januari 2006.
Beberapa bulan terakhir, Harper adalah sosok yang menuai banyak kecaman akibat hampir semua kebijakannya dianggap mencederai rasa keadilan sebagian rakyat Kanada. Harper disamakan dengan diktator akibat cara-caranya menguasai hampir lini-lini strategis dengan cara pengawasan penuh langsung yang dirasa tidak terbuka dan kurang demokratis.
Harper yang sangat "sayap kanan" ini juga dinilai tidak peka pada isu lingkungan hidup dan perubahan iklim ekstrim karena dekat dengan kaum pengusaha pertambangan yang konon menjadi pendana utama partainya.
Tidak pekanya Harper terhadap isu-isu sosial menyangkut kemanusiaan membuat Harper tidak populer di kalangan lembaga swadaya masyarakat Kanada. Ketidakpekaannya secartercermin pada program-progam CIDA (Canadian International Development Agency) atau Badan Pembangunan Internasional Kanada yang memiliki misi utama mendukung upaya internasional untuk membantu orang yang hidup dalam kemiskinan.
Bocoran dari seorang kawan, kini pendanaan CIDA untuk seluruh programnya di hampir seluruh dunia mulai mengalami semacam "penyempitan" cukup serius akibat kebijakan pemerintahan Harper yang secara nyata makin lama makin tak berpihak pada isu-isu kemanusiaan. Wah !
SAYA kembali lagi pada pembicaraan dengan pengelola rumah rehabilitasi yang hampir mirip keluhan seorang pekerja lembaga bantuan internasional asal kanada yang saya sampaikan di awal tulisan ini.
Keduanya mengutarakan kegelisahan yang sama perihal bantuan yang mulai terancam alirannya, efek tak langsung dari kebijakan pemerintahan Harper yang disebut-sebut sebagai pemimpin diktator Kanada pertama.
SENIN, 2 Mei yang lalu Kanada mengadakan pemilihan umum yang dimenangkan oleh Partai Konservatif pimpinan Perdana Menteri Stephen Harper. Harper unggul berkat kampanye yang mengangkat perosoalan ekonomi yang memang pernah membuatnya sempat populer saat berhasil membawa Kanada melewati masa kesulitan ekonomi global sekitar tahun 2008-2009.
Harper akan kembali memimpin Kanada untuk empat tahun ke depan. Mungkin kegelisahan saya tidak sama dengan kegelisahan sebagian rakyat Kanada yang merasa dipimpin seorang diktator namun juga cemas dengan situasi ekonomi global yang labil sehingga mendorong mereka melakukan keputusan sulit saat berada dalam bilik pemilihan.
Kegelisahan saya lebih pada implikasi akibat tak langsung memimpinnya kembali Harper terhadap bantuan negara Kanada terhadap program-program kemanusiaan internasional, tentu khususnya ke Indonesia.
ALASAN saya sederhana, setelah apa yang beberapa pihak usahakan untuk membantu dan ikut peduli pada Indonesia, apakah kita juga cukup punya sedikit saja ruang dalam hati untuk turut merasakan apa yang beberpa kawan di luar sana rasakan menyangkut perkembangan dan kegiatan politik di negaranya ?
Saya menyebutnya Solidaritas Dua Arah :)
Jakarta, 6 Mei 2011
29 March 2011
Kembali Menjadi Wakil Rakyat Yang Amanah


Sebuah tanya bergayut di benak anak-anak bangsa, benarkah kami masih memiliki wakil-wakil yang amanah di Senayan?
Yang bagai kekasih rakyat setia mengawal dan merasa menjadi bagian penting dari hati rakyat yang paling dalam.
Lalu kemudian kita dibentur-benturkan dengan banyak kenyataan yang menyebabkan patah hati. Adegan-adegan di berbagai media yang mempertunjukkan perilaku tak semestinya para anggota dewan makin sering mencengangkan.
Ketika baru-baru ini tersebar luas wacana kode etik anggota DPR yang dilarang mengunjungi pelacuran dan perjudian, publik kembali diperhadapkan dengan isu yang tidak cerdas. Di gedung gagah Senayan itu banyak hal penting perlu dibahas, perlu diangkat dan kritikal dan menyangkut kemaslahatan rakya banyak, mengapa meributkan soal kode etik yang sudah pasti secara logika sudah pasti tidak mungkin dilakukan (baca : secara terbuka).
Perilaku melempar isu tidak cerdas akhir-akhir ini makin mekar di kalangan wakil rakyat. Sebelumnya kita dibuat patah hati dengan pengusiran KPK dari Senayan dan kini kode etik yang hanya akan menimbulkan pro-kontra tak penting di tengah masyarakat.
Sungguh memprihatinkan ketika para wakil rankyat yang kita harapkan menjadi bagian penting dari edukasi mencerdaskan bangsa justru menjadi pihak yang mengangkat gagasan atau isu yang hanya akan menimbulkan sensasi dan kesensitifan yang tidak perlu di tengah masyarakat.
Mengapa ? Karena masyarakat kita adalah masyarakat yang masih sangat peka dengan hal-hal yang menyangkut penghakiman moral, soal hitam-putihnya seseorang, segolongan orang atau institusi. Dan pengangkatan gagasan yang menyangkut kode etik anggota DPR soal “bepergian” ke tempat-tempat yang dianggap maksiat itu cepat tersebar dan menjadi konsumsi tak cerdas di tengah-tengah masyarakat, karena lalu masyarakat “dimanjakan” dengan isu yang tidak mencerahkan, yang malah memperkeruh keadaan dimana keadaan sosial, politik dan yang terpenting ekonomi sedang semakin tidak ramah saat ini.
Sangat tidak elok dan tidak bijak.
Kita semua berharap memilik wakil rakyat yang bisa kita cintai dengan sepenuh hati dan jiwa, bukan yang selalu menimbulkan efek patah hati dan keresahan bahkan keraguan dan skeptisme.
Kita berharap dapat menaruh banyak harapan besar di pundak para wakil rakyat untuk hal yang bisa memajukan, mencerdaskan dan mencerahkan kondisi bangsa yang sedang demam ini, dan menyehatkannya butuh semangat dan dukungan semua pihak terutama pihak-pihak yang telah diberi kepercayaan untuk menjadi wakil rakyat dan para penyelenggara negara.
Mari kembali menjadi amanah dan dicintai, itu harapan terbesar bangsa ini.
Keteranga foto :
1. Dari ecchan.wordpress.com
2. Dari Kompassiana.com
Subscribe to:
Posts (Atom)