: ja
saat waktu dan jarak makin tipis, aku sedikit gemetar disertai gentar
karena bukan pertemuan yang aku khawatirkan
melainkan perpisahan yang pasti akan menusuk dalam dan kelam
di hadapan bayangmu
aku berlutut
menikam diriku
membunuh diri yang terus berharap!
22 July 2010
Ada Musibah!
ada musibah!
ketika gempa semata bagi penguasa
ketika banjir bagi yang kafir
ketika longsor bagi ideologi berbeda
ketika ada mati
ketika ada sakit
ketika ada penjara
ketika ada lara
padahal tuhan juga menangis bersama yang menangis
ketika gempa semata bagi penguasa
ketika banjir bagi yang kafir
ketika longsor bagi ideologi berbeda
ketika ada mati
ketika ada sakit
ketika ada penjara
ketika ada lara
padahal tuhan juga menangis bersama yang menangis
29 April 2010

Telah terbit antologi puisi 9 penyair perempuan Indonesia :
- Magi Luna
- Weni Suryandari
- Susy Ayu
- Shinta Miranda
- Nona Muchtar
- Pratiwi Setyaningrum
- Kwek Li Na
- Helga Worotitjan
- Faradina Izdhihary
" Perempuan Dalam Sajak"
Dapatkan di Gramedia (segera) -atau- pesan langsung lewat INBOX fb masing2 penulis. Harga buku 36rb (termasuk ongkos kirim untuk Pulau Jawa)
Rindu 2
aku mencoba mengurai simpul-simpul rindu
semakin keras usahaku
semakin kuat ia mengikat
dan membuat seluruhku pucat pasi,
karena darah tak lagi mengalir dalamku
hanya rindu yang mengalir dingin bersama aroma mati
: mati sebagai aku dan makin sebagai kau
semakin keras usahaku
semakin kuat ia mengikat
dan membuat seluruhku pucat pasi,
karena darah tak lagi mengalir dalamku
hanya rindu yang mengalir dingin bersama aroma mati
: mati sebagai aku dan makin sebagai kau
05 April 2010
Rindu
apa harus kukata ketika kau membuatku bisu?
aku terlalu letih untuk bicara,
namun terlalu bergairah untuk tidak meletakkan gerimis di sudut mata yang rindu
malam ini aku menuju ke mimpimu dengan gaun hijau giok
meletakkan setangkai puisi merah hati di tumit pintu tanpa mengetuknya
hanya ingin mengabari bahwa aku selalu menginginkanmu
aku terlalu letih untuk bicara,
namun terlalu bergairah untuk tidak meletakkan gerimis di sudut mata yang rindu
malam ini aku menuju ke mimpimu dengan gaun hijau giok
meletakkan setangkai puisi merah hati di tumit pintu tanpa mengetuknya
hanya ingin mengabari bahwa aku selalu menginginkanmu
14 February 2010
candu asmara
(1)
pada daun yang berjatuhan satu-satu
peluhmu turut
berdebam pelan pada tanahku
yang tak sakti lagi menolak
atau memancing salak
yang kutahu hanya terjerebab telak
(2)
bisa-bisanya kau menarikan gelisahku
di lekuklekukku
di selaselaku
di jejarianku
(3)
berhenti membuatku menikmatimu
aku cuma mau mati dalam belatimu
mari bunuhku dengan sakit sekali
(4)
berhari-hari yang lalu
liang ini masih sepi
karena aku belum menepi
jakarta 04.03.2009
pada daun yang berjatuhan satu-satu
peluhmu turut
berdebam pelan pada tanahku
yang tak sakti lagi menolak
atau memancing salak
yang kutahu hanya terjerebab telak
(2)
bisa-bisanya kau menarikan gelisahku
di lekuklekukku
di selaselaku
di jejarianku
(3)
berhenti membuatku menikmatimu
aku cuma mau mati dalam belatimu
mari bunuhku dengan sakit sekali
(4)
berhari-hari yang lalu
liang ini masih sepi
karena aku belum menepi
jakarta 04.03.2009
Subscribe to:
Posts (Atom)